Banjarnegara (Humas) – Suasana hangat dan kekeluargaan tampak jelas di kediaman Widiati, salah satu warga penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa Aribaya, Kecamatan Pagentan. Pada Jumat pagi, 08 Mei 2026, rumah sederhana tersebut disulap menjadi majelis ilmu dalam rangka kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan Agama Islam yang diselenggarakan oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Pagentan.
Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB ini menghadirkan Alfiana Nurhidayah, selaku Penyuluh Agama Islam KUA Pagentan, dengan didampingi oleh Pendamping PKH Desa Aribaya, Noviatun Salamah. Pertemuan ini mengusung tema besar: “Menjemput Berkah di Tengah Keterbatasan: Memperkokoh Pilar Ekonomi Keluarga dengan Kekuatan Spiritual.”
Pelaksanaan bimbingan di rumah warga merupakan strategi jemput bola agar suasana penyuluhan terasa lebih cair dan menyentuh langsung ke realita kehidupan masyarakat. Noviatun Salamah, dalam pengantarnya, mengapresiasi antusiasme para ibu KPM yang tetap semangat hadir meski di tengah kesibukan domestik.
“Kami sengaja mengadakan pertemuan di rumah Ibu Widiati agar suasana lebih akrab. Fokus kita bukan hanya soal pencairan bantuan materi, tapi bagaimana
bantuan tersebut diiringi dengan peningkatan kualitas ibadah dan mentalitas yang mandiri,” ungkap Noviatun Salamah di sela-sela acara.
Dalam sesi utama, Alfiana Nurhidayah memberikan pemaparan yang menggugah mengenai manajemen hati dalam menghadapi tantangan ekonomi. Ia menekankan bahwa bantuan sosial dari pemerintah adalah wasilah (perantara), namun sumber kecukupan yang utama tetap datang dari ketakwaan kepada Allah Swt.
Alfiana menjelaskan bahwa keluarga yang sakinah bukan diukur dari kemewahan rumahnya, melainkan dari kedamaian dan rasa syukur penghuninya. Ia mengajak para peserta untuk menerapkan prinsip Qana’ah atau merasa cukup dengan apa yang ada sembari tetap berusaha secara maksimal.
“Ibu-ibu, rezeki itu sudah ada takarannya, tapi keberkahan itu kita yang jemput. Jangan sampai kita sibuk mengeluh tentang apa yang belum ada, hingga lupa mensyukuri nikmat sehat dan kesempatan mendampingi tumbuh kembang anak-anak kita. Syukur adalah magnet yang akan menarik nikmat-nikmat selanjutnya,” tutur Alfiana Nurhidayah dengan penuh empati.
Kegiatan berlangsung sangat interaktif. Ibu Widiati selaku tuan rumah mengaku sangat terbantu dengan kehadiran penyuluh agama ke rumahnya. Menurutnya, siraman rohani ini menjadi “obat lelah” di tengah perjuangan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Selain materi spiritual, Alfiana juga menyelipkan pesan penting mengenai pendidikan karakter anak di rumah. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan program PKH salah satunya diukur dari meningkatnya kualitas pendidikan dan kesehatan anak-anak di lingkungan keluarga penerima manfaat.
Acara yang berakhir menjelang waktu salat Jumat tersebut ditutup dengan doa bersama untuk keberkahan Desa Aribaya. Sinergi antara KUA Pagentan dan pendamping sosial PKH ini diharapkan menjadi model pemberdayaan masyarakat yang komprehensif, di mana kebutuhan jasmani dan rohani warga terpenuhi secara seimbang demi terciptanya tatanan masyarakat yang lebih sejahtera dan religius.
(an/azd)
