Banjarnegara (Humas) – Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Wanayasa kembali menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) bagi para calon pengantin (Catin) di wilayah kerja Kecamatan Wanayasa. Bertempat di Balai Nikah KUA Wanayasa, kegiatan yang berlangsung pada Kamis (29/1/2026) ini bertujuan untuk memberikan bekal mental dan spiritual sebelum memasuki bahtera rumah tangga.
Sesi bimbingan kali ini menghadirkan dua narasumber utama yaitu Toto Subagyo, Penyuluh Agama Islam Fungsional Wanayasa dan Ririn Kusandarini, Perwakilan Puskesmas Wanayasa 2.
Materi diawali oleh Toto Subagyo yang membedah “Fondasi Keluarga Sakinah”. Ia menekankan pentingnya meluruskan niat dalam menikah agar setiap dinamika rumah tangga bernilai ibadah.
“Keluarga sakinah itu berdiri di atas pilar mawaddah dan warahmah. Fondasinya adalah komitmen untuk saling menguatkan dalam ketaatan. Jika fondasi spiritualnya rapuh, maka urusan duniawi akan mudah menggoyahkan keharmonisan,” tegas Toto Subagyo.
Setelah pembekalan rohani, sesi dilanjutkan oleh Ririn Kusandarini dari Puskesmas Wanayasa 2 yang memaparkan materi “Kesehatan Reproduksi dan Pencegahan Stunting”. Ia menjelaskan bahwa kesiapan fisik dan pengetahuan reproduksi sangat menentukan kualitas generasi mendatang.
“Catin harus paham bahwa kesehatan reproduksi bukan hal yang tabu. Perencanaan kehamilan yang sehat dan pemenuhan gizi sejak sebelum menikah adalah langkah nyata kita untuk mencegah stunting dan memastikan ibu serta bayi selamat,” jelas Ririn.
Kombinasi materi agama dan kesehatan ini mendapat apresiasi tinggi dari para peserta. Mereka mengaku mendapatkan perspektif baru yang lebih luas tentang tanggung jawab setelah menikah.
Liang (30), salah satu peserta, menyatakan bahwa materi yang disampaikan sangat membantunya dalam merencanakan masa depan.
“Tadinya saya fokus ke persiapan resepsi saja. Tapi setelah dengar penjelasan Bu Ririn dan Pak Toto, saya sadar kalau persiapan kesehatan dan mental jauh lebih penting. Sekarang saya lebih paham cara menjaga kesehatan calon ibu dan bagaimana cara meredam konflik dengan cara agama,” kata Liang.
Kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab dan doa bersama, dengan harapan para calon pengantin dapat mengimplementasikan ilmu yang didapat untuk menciptakan keluarga yang harmonis, penuh cinta, dan kasih sayang.
(sk/ azd)







