Yuniyati Ikuti Sosialisasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Bersama Gabungan Organisasi Wanita Banjarnegara

Banjarnegara (Humas) – Upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak terus digalakkan oleh berbagai pihak, termasuk Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Banjarnegara. Pada Senin (6/10), GOW Banjarnegara menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak di Aula Sasana Bhakti Praja lantai 1 Sekretariat Daerah Kabupaten Banjarnegara.

Kegiatan ini dihadiri oleh para pengurus dan anggota GOW dari berbagai organisasi perempuan se-Kabupaten Banjarnegara, termasuk Yuniyati, bendahara bidang pemberdayaan perempuan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Banjarnegara, yang juga merupakan Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum MTs Negeri 1 Banjarnegara.

Sosialisasi yang mengangkat tema “Luka yang Tak Terlihat, Dampak Psikologis Kekerasan dalam Rumah Tangga” ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni Hidayaturrohmah, hakim Pengadilan Agama Banjarnegara, dan Gones Saptowati,  Psikolog dari RSUD Banjarnegara. Keduanya menyampaikan materi yang membuka wawasan peserta tentang berbagai bentuk kekerasan, dampak psikologis yang timbul, serta langkah-langkah hukum yang dapat ditempuh oleh korban.

Dalam pemaparannya, Hidayaturrohmah menegaskan bahwa kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) bukan hanya berupa kekerasan fisik, tetapi juga bisa berbentuk kekerasan psikis, seksual, maupun penelantaran ekonomi.

“Jika ada istri yang menjadi korban KDRT, ia memiliki hak untuk melapor dan mengajukan gugatan cerai di Pengadilan Agama tanpa harus menunggu enam bulan sebagaimana kasus perceraian biasa,” jelasnya.

Ia juga menyoroti kasus perkawinan usia dini yang masih banyak ditemukan di Banjarnegara, terutama karena alasan kehamilan di luar nikah.

“Banyak calon pengantin masih berusia sangat muda, bahkan belum memiliki penghasilan tetap. Akibatnya, rumah tangga rentan mengalami kekerasan dan perceraian,” tambahnya.

Sementara itu, psikolog Gones Saptowati memaparkan sisi psikologis yang dialami korban kekerasan. Berdasarkan data yang ia sampaikan, hingga September 2025 tercatat sekitar 10.000 kasus KDRT dilaporkan di Indonesia.

“Dampak psikologis yang dialami korban sangat kompleks, mulai dari depresi, gangguan kecemasan, trauma pasca peristiwa, hingga kehilangan rasa percaya diri,” ujar Gones.

Ia menjelaskan bahwa faktor penyebab kekerasan bisa berasal dari individu, relasi sosial, budaya, maupun ekonomi.

“Untuk memutus rantai kekerasan, kita harus memahami akar masalahnya, bukan hanya menindak pelaku,” imbuhnya.

Gones juga menekankan pentingnya dukungan sosial bagi para korban.

“Korban KDRT seringkali merasa takut dan malu untuk melapor. Di sinilah peran keluarga, teman, dan lingkungan sekitar sangat penting. Kita semua harus menjadi pelindung, bukan penonton,” ujarnya.

Yuniyati, yang hadir mewakili PGRI Kabupaten Banjarnegara, mengaku mendapatkan banyak pembelajaran berharga dari kegiatan ini.

“Sebagai pendidik dan pengurus organisasi perempuan, saya merasa penting untuk ikut berperan aktif dalam mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak. Sosialisasi ini membuka mata kita bahwa kekerasan bisa terjadi di mana saja, bahkan di lingkungan pendidikan sekalipun,” ungkapnya.

Ia berharap kegiatan serupa terus dilakukan secara berkelanjutan agar semakin banyak pihak yang sadar akan pentingnya perlindungan bagi perempuan dan anak.

Kepala MTs Negeri 1 Banjarnegara, H. Yatiman, turut memberikan apresiasi atas partisipasi Yuniyati dalam kegiatan tersebut.

“Kami bangga Ibu Yuniyati dapat berkontribusi aktif dalam kegiatan sosial yang sejalan dengan nilai-nilai pendidikan karakter. Guru tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga harus menjadi teladan dalam membangun masyarakat yang berkeadilan dan bebas dari kekerasan,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, Gabungan Organisasi Wanita Banjarnegara berharap dapat memperkuat kolaborasi lintas lembaga dan profesi untuk mencegah serta menanggulangi kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Ketua GOW Kabupaten Banjarnegara, Ny. Sri Rejeki Indarto, dalam sambutannya menegaskan pentingnya sinergi semua pihak.

“Kita semua, baik organisasi perempuan, lembaga pendidikan, maupun masyarakat umum, memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan perempuan dan anak hidup aman dan bermartabat,” tuturnya.

Sosialisasi yang berlangsung interaktif ini ditutup dengan sesi tanya jawab antara peserta dan narasumber, di mana banyak peserta mengungkapkan keprihatinan sekaligus harapan agar edukasi tentang kekerasan dalam rumah tangga lebih masif disosialisasikan hingga ke tingkat desa.

Dengan semangat kolaborasi dan kepedulian, kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam membangun Banjarnegara sebagai daerah yang ramah dan aman bagi perempuan dan anak. (Lin/La)

Skip to content