4 Guru MIFABARA Penuhi Lautan Putih di Alun-Alun: Khotmil Qur’an dan Dawet Ayu Mengalirkan Berkah di Hari Jadi ke-455 Kabupaten Banjarnegara

Banjarnegara – Hamparan busana putih berpadu jilbab biru langit tampak memutihkan Alun-Alun Banjarnegara. Dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-455 Kabupaten Banjarnegara, ribuan masyarakat larut dalam khotmil Qur’an dan buka puasa bersama yang berlangsung khidmat dan penuh makna.(26/2)

Sejak pukul 14.00 WIB, peserta mulai melakukan absensi kedatangan hingga pukul 15.30 WIB. Masing-masing hadir dengan membawa Al-Qur’an, perlengkapan salat, serta sajadah atau tikar. Ketentuan busana yang seragam semakin menegaskan kesatuan hati: perempuan mengenakan busana muslim putih dengan jilbab biru langit, sementara laki-laki tampil dalam balutan putih, bersarung, dan berkopiah hitam, blangkon, atau iket.

Rangkaian acara diawali pembukaan oleh MC, dilanjutkan penampilan Rebana Modern Al Barqi Masaran yang menggugah suasana. Lantunan ayat suci dalam sesi tadarus menggema, menyatu dengan semilir angin sore. Sambutan Bupati Banjarnegara yang disiarkan pula melalui teleconference kepada peserta di berbagai wilayah menjadi simbol bahwa peringatan hari jadi ini dirayakan dalam kebersamaan lintas ruang.

Momen istimewa hadir saat penyerahan rekor MURI, sebelum tausiah oleh Gus Wakhid yang sekaligus memimpin doa buka puasa. Dalam tausiyahnya, ia mengajak masyarakat menjadikan usia ke-455 sebagai momentum muhasabah dan penguatan nilai Qur’ani dalam kehidupan sosial. “Al-Qur’an bukan hanya dibaca, tetapi harus menjadi cahaya yang menuntun langkah pembangunan dan akhlak masyarakat,” pesannya penuh makna.

Empat guru MI Al Fatah Parakancanggah, Umar, Marba, Tikfi, dan Ulfah turut hadir mengikuti kegiatan hingga selesai. Kepala Madrasah MI Al Fatah, Durotun Nafisah, menyampaikan apresiasi atas partisipasi guru dalam kegiatan tersebut. “Khotmil Qur’an di ruang publik seperti ini adalah syiar yang luar biasa. Ini bukan hanya peringatan hari jadi, tetapi momentum menanamkan cinta Al-Qur’an kepada generasi dan masyarakat luas,” ungkapnya.

Menjelang magrib, doa dipanjatkan serentak. Setelah itu, peserta menikmati dawet ayu khas Banjarnegara dan hidangan masyarakat untuk berbuka puasa. Manisnya dawet seakan menjadi simbol harapan: semoga Banjarnegara semakin manis dalam persaudaraan, kokoh dalam iman, dan maju dalam pembangunan, berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an yang terus hidup di hati warganya.(nas)