Banjarnegara (Humas) – Semangat literasi di MTs Negeri 1 Banjarnegara kembali digaungkan melalui program unggulan Madtsansa Berpuisi. Pada Selasa (9/9), media sosial Madtsansa menayangkan penampilan istimewa dari salah satu siswi kelas unggulan sastra dan seni, Adisty Rukmaning Senja, yang membawakan puisi berjudul Ketika Aku Bercerita Aku. Karya tersebut merupakan hasil goresan pena Elvira, salah satu pegiat literasi Indonesia yang aktif mereview buku, menulis puisi, novel, dan cerpen.
Penampilan Senja menjadi bukti nyata bahwa semangat literasi bisa diwujudkan bukan hanya melalui membaca dan menulis, tetapi juga lewat menghidupkan karya di depan publik. Dengan ekspresi yang tenang dan penghayatan mendalam, Senja mampu membuat kata-kata Elvira beresonansi hingga menembus ruang batin penonton.
Menurut Linara, salah satu guru pembimbing sastra di Madtsansa, penampilan Senja merupakan bagian dari upaya kelas unggulan sastra untuk terus menggali kemampuan literasi berbicara.
“Senja sedang belajar menunjukkan bagaimana sebuah karya sastra bisa dihidupkan. Ia tidak sekadar membaca, tetapi menjiwai setiap kata yang ia ucapkan. Itulah inti dari deklamasi: menghadirkan nyawa pada karya. Saya bangga karena program Madtsansa Berpuisi berhasil melahirkan keberanian sekaligus kecintaan terhadap sastra,” tutur Linara.
Ia menambahkan, Madtsansa berkomitmen menjadikan literasi sebagai budaya. Dengan kegiatan rutin seperti ini, siswa bukan hanya terampil akademis, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang peka dan berani berekspresi.
Bagi Senja sendiri, kesempatan tampil dalam program Madtsansa Berpuisi adalah pengalaman yang berkesan. Ia mengaku sempat merasa gugup, tetapi dorongan dari guru dan teman-teman membuatnya percaya diri untuk tampil maksimal.
“Awalnya saya takut salah atau kurang pas dalam membawakan puisi ini. Tapi setelah berlatih, saya mulai merasa lebih nyaman. Saya suka sekali dengan karya Kak Elvira karena puisinya jujur, mengalir, dan membuat saya bisa masuk ke dalam suasana. Saya berharap penampilan saya bisa menginspirasi teman-teman lain untuk berani mencoba,” ungkap Senja dengan senyum hangat.
Nabila, guru bahasa Indonesia di Madtsansa, juga memberikan pujian atas penampilan siswinya. Ia menilai pemilihan karya Ketika Aku Bercerita Aku sangat tepat karena sarat makna dan mampu merepresentasikan semangat anak muda.
“Puisi ini sederhana, tetapi penuh daya gugah. Senja berhasil membacanya dengan intonasi yang pas, tidak berlebihan tetapi tetap sampai ke hati. Saya melihat ada perkembangan luar biasa dari anak-anak unggulan sastra kita. Mereka tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi benar-benar mempraktikkannya dalam bentuk karya,” ujar Nabila.
Ia berharap kegiatan seperti ini bisa terus berjalan dan menjadi ciri khas Madtsansa dalam membangun karakter siswa yang literat dan kreatif.
Kekaguman juga datang dari teman satu angkatan Senja, Raisa Alin, siswi kelas 8B unggulan sastra. Ia mengaku terinspirasi setelah menyaksikan penampilan tersebut.
“Senja itu luar biasa! Dia bisa bikin kita terbawa suasana seolah sedang mendengar ceritanya langsung. Saya jadi ingat waktu saya juga mengisi Madtsansa Berpuisi dulu, dag dig dug hehe” kata Raisa penuh semangat.
Baginya, Madtsansa Berpuisi adalah ruang aman untuk mengasah diri. Ia merasa setiap penampilan teman-temannya membawa motivasi baru untuk terus belajar dan berkembang.
Tidak kalah penting, apresiasi datang langsung dari sang penulis, Elvira melalui pesan WhatsApp kepada tim warta Madtsansa. Saat dimintai tanggapan mengenai penampilan Senja, ia menyampaikan rasa bahagia sekaligus haru karena karyanya bisa dinikmati dan dihidupkan oleh generasi muda.
“Saya sangat bangga dan terharu. Puisi itu lahir dari pengalaman batin saya, dan melihat adik-adik seperti Senja bisa membawakannya dengan begitu indah adalah kebahagiaan tersendiri. Saya percaya bahwa karya sastra baru benar-benar hidup ketika dibaca, didengar, dan dirasakan bersama. Terima kasih Madtsansa karena telah memberi ruang untuk itu,” ungkap Elvira.
Ia pun mendorong para siswa agar terus menulis, membaca, dan menghidupkan karya sastra. Menurutnya, literasi bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga tentang merawat perasaan dan menumbuhkan empati.
Program Madtsansa Berpuisi terbukti tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana pendidikan yang menginspirasi. Dengan menampilkan karya penulis nasional sekaligus memberi ruang bagi siswa untuk tampil, Madtsansa berhasil menggabungkan pembelajaran sastra dengan pengalaman nyata.
Penampilan Adisty Rukmaning Senja kali ini menunjukkan bahwa literasi bisa diwujudkan dengan beragam cara: menulis, membaca, hingga mendeklamasikan. Dengan dukungan guru, teman, dan bahkan penulis karya, Senja membuktikan bahwa puisi memiliki kekuatan untuk menyatukan banyak pihak dalam satu ruang rasa.
Madtsansa Berpuisi sekali lagi berhasil membumikan semangat literasi. Dan seperti pesan yang tersirat dari puisi Ketika Aku Bercerita Aku, setiap suara memiliki cerita. Dan setiap cerita, jika dihidupkan dengan sepenuh hati, akan menemukan jalannya menuju hati pendengar. (Fy/La)







