Penyuluh Agama Islam, Ajak Wali Murid PAUD Isi Waktu Luang dengan Kegiatan Positif: “Ibu adalah Madrasah Pertama bagi Anak

Banjarnegara (Humas) – Dalam upaya memperkuat peran keluarga dalam pendidikan anak usia dini, Sudarno selaku Penyuluh Agama Islam Kecamatan Pandanarum melakukan kegiatan kepenyuluhan kepada para wali murid PAUD Mentari Getas. Bertempat di Masjid At-Taqwa Getas yang berada tepat di samping sekolah sebanyak 27 wali murid, yang sebagian besar adalah ibu-ibu muda hadir dan mengikuti kegiatan ini dengan penuh antusias. (22/9)

Kegiatan kepenyuluhan yang berlangsung pada Senin pagi ini bertujuan membina dan mengedukasi para wali murid agar lebih bijak dalam memanfaatkan waktu luang, terutama bagi mereka yang sehari-hari mendampingi anak di rumah. Sudarno dalam penyampaiannya menekankan pentingnya kesadaran orang tua akan peran besar yang mereka miliki dalam proses tumbuh kembang anak, baik dari segi fisik, emosional, maupun spiritual.

“Seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Dari ibulah anak pertama kali mengenal kasih sayang, nilai-nilai kebaikan, dan contoh perilaku. Maka waktu luang yang dimiliki para ibu sebaiknya digunakan untuk memperkuat peran tersebut,” ungkap Sudarno dalam ceramahnya.

Menanggapi hal tersebut, Sudarno mengajak para ibu untuk tidak merasa sendiri dan terus belajar. “Menjadi orang tua adalah proses belajar seumur hidup. Tidak ada sekolah resmi untuk menjadi ibu yang sempurna, tapi dengan niat yang baik, keikhlasan, dan pembinaan seperti ini, kita bisa bersama-sama menjadi orang tua yang lebih baik untuk anak-anak kita,” lanjutnya.

Kepala PAUD Mentari Getas dalam kesempatan terpisah menyampaikan bahwa pihaknya terbuka dan mendukung kolaborasi antara lembaga pendidikan dengan para penyuluh agama maupun pihak-pihak terkait. “Pendidikan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tapi juga orang tua dan lingkungan. Maka sinergi seperti ini sangat penting dan semoga dapat dilaksanakan secara rutin ke depannya,” ungkapnya.

Para wali murid pun berharap kegiatan serupa bisa dilakukan secara berkala. Selain menambah wawasan, kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi antar orang tua siswa. Beberapa dari mereka bahkan menyampaikan rasa syukur karena merasa lebih termotivasi dan percaya diri dalam menjalankan peran sebagai ibu.

Kegiatan kepenyuluhan ini menjadi bukti bahwa pembinaan keagamaan tidak harus selalu dilakukan di ruang formal atau dalam skala besar. Dengan pendekatan yang sederhana, hangat, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat, penyuluhan seperti ini justru lebih efektif dalam menyentuh hati dan membangkitkan kesadaran. (ev, azd)