Banjarnegara (Humas) – Upaya peningkatan kualitas pemahaman dan bacaan Al-Qur’an di kalangan masyarakat terus dilakukan oleh para Penyuluh Agama Islam. Salah satunya adalah Efatun, Penyuluh Agama Islam dari Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Pandanarum, yang kembali mengadakan pembinaan bersama Majelis Taklim Nurul Hidayah Sirukem di Desa Beji.
Kegiatan ini dilaksanakan pada selasa (23/9) bertempat di salah satu rumah anggota majelis taklim yang dimulai dari pukul 16.00 hingga selesai. Suasana kekeluargaan dan semangat belajar sangat terasa sejak awal kegiatan dimulai. Sebanyak 24 orang anggota hadir dan mengikuti pembinaan dengan penuh antusias.
Pada pertemuan kali ini, Efatun membawa agenda utama berupa perbaikan bacaan Surat Yasin ayat 1 sampai 20. Ia menekankan pentingnya membaca Al-Qur’an dengan benar sesuai kaidah tajwid, agar makna ayat tidak berubah dan pahala membaca pun maksimal.
“Membaca Al-Qur’an bukan sekadar melafalkan huruf-hurufnya, tetapi bagaimana kita bisa membaca dengan benar, memahami maknanya, dan mengamalkannya. Saya ingin pembinaan ini menjadi awal yang baik untuk membiasakan bacaan yang sesuai dengan kaidah,” tutur Efatun dalam sambutannya.
Proses pembinaan dilakukan secara bergiliran. Para anggota majelis membaca secara berkelpmpok ayat dari Surat Yasin, kemudian Efatun memberikan koreksi dan penjelasan tajwid serta contoh pelafalan yang benar. Beberapa kesalahan umum seperti pemanjangan harakat, pengucapan huruf hijaiyah, dan tempat waqaf (berhenti) menjadi fokus perbaikan.
Meski dilakukan secara bertahap, Efatun tetap optimis bahwa pembelajaran berkelanjutan akan memberikan hasil yang signifikan. Ia juga mengapresiasi semangat belajar para ibu-ibu yang tergabung dalam majelis ini.
“Saya senang karena ibu-ibu di sini sangat serius dan semangat belajar. Ini bukan hanya tentang membaca Yasin, tapi bagian dari usaha kita untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui Al-Qur’an,” tambahnya.
Selain memperbaiki bacaan, pertemuan ini juga menjadi ajang silaturahmi dan penguatan nilai-nilai kebersamaan antaranggota. Kehadiran Efatun sebagai Penyuluh Agama Islam tidak hanya memberikan ilmu, tetapi juga motivasi bagi masyarakat untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas ibadah.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan harapan agar pembinaan serupa bisa terus berlanjut secara rutin. Beberapa anggota bahkan menyampaikan keinginan agar pertemuan berikutnya dapat mencakup hafalan dan pemahaman makna dari surat-surat pendek dalam Al-Qur’an.
Dengan kegiatan seperti ini, diharapkan masyarakat, khususnya kalangan perempuan di desa, semakin cakap dalam membaca dan memahami Al-Qur’an, serta mampu menjadi teladan di lingkungan keluarga dan masyarakat. (ev, azd)







