Banjarnegara (Humas) – Gebrakan luar biasa kembali dilakukan oleh para Penyuluh Agama Islam Kecamatan Mandiraja. Kali ini, mereka menggandeng pelaku usaha lokal untuk mengadakan Pelatihan Pembuatan Dawet Ayu Banjarnegara di Majelis Taklim An Nur, Desa Kaliwungu, Kamis (9/10).
Kegiatan yang penuh semangat ini menghadirkan Hendriyanto, Penyuluh Agama Islam Mandiraja sebagai pelatih sekaligus pemilik usaha Dawet Ayu Banjarnegara asal Desa Luwung, Kecamatan Rakit. Dengan pengalaman dan ketekunan luar biasa, Hendriyanto membagikan ilmu dan keterampilan membuat minuman legendaris khas Banjarnegara kepada jamaah majelis taklim.
Turut hadir dalam kegiatan inspiratif ini, Kepala KUA Mandiraja Irfan Sulastono, Pj Kepala Desa Kaliwungu, serta Pengasuh Majelis Taklim An Nur, Bapak Slamet. Kehadiran para tokoh tersebut menjadi bentuk dukungan nyata terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis majelis taklim.
Selama kegiatan berlangsung, suasana penuh kebersamaan, tawa, dan antusiasme tampak menyelimuti majelis. Para ibu-ibu jamaah tampak semangat mengikuti setiap tahap pembuatan dawet, mulai dari proses pembuatan cendol, santan, hingga penyajian khas yang menggugah selera.

Menurut Hendriyanto, pelatihan ini bukan hanya sekadar belajar membuat minuman tradisional, tetapi juga menanamkan nilai kemandirian dan semangat wirausaha.
“Siapa pun bisa mulai usaha kecil dari rumah. Dawet Ayu bukan sekadar minuman, tapi peluang ekonomi yang manis,” ungkapnya dengan semangat.
Sementara itu, Kepala KUA Mandiraja Irfan Sulastono dalam sambutannya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas inisiatif para penyuluh.
“Inilah bentuk nyata dakwah yang menyejukkan dan memberdayakan. Majelis taklim bukan hanya tempat mengaji, tapi juga ruang untuk tumbuh bersama, mandiri, dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Kegiatan ini juga meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta. Salah satunya Turyati, Ketua Majelis Taklim An Nur, yang mengaku sangat senang dengan kegiatan tersebut.
“Saya sangat senang bisa ikut pelatihan ini. Ternyata membuat dawet itu tidak sesulit yang saya kira. Selain bisa menambah ilmu, kegiatan ini juga membuat kami para jamaah semakin kompak dan termotivasi untuk berusaha,” tutur Turyati dengan wajah sumringah.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam mewujudkan kemandirian ekonomi umat melalui penguatan keterampilan berbasis tradisi lokal Banjarnegara. Dawet Ayu, yang selama ini dikenal sebagai ikon daerah, kini menjadi sarana dakwah kreatif dan pemberdayaan sosial.
Dengan semangat kebersamaan yang terus menyala, Majelis Taklim An Nur Kaliwungu menjadi saksi bagaimana dakwah dan ekonomi bisa berpadu harmonis dalam satu wadah kegiatan yang menggugah dan bermakna. (H/azd)







