Guru Madtsansa Raih Juara 2 Tingkat Nasional Lomba Moviolog Semarak Agustusan GTK Madrasah 2025

Banjarnegara (Humas) – Prestasi gemilang kembali diraih oleh guru MTs Negeri 1 Banjarnegara. Linara, guru Matematika yang juga pembina kelas unggulan Sastra dan Seni, berhasil meraih Juara 2 tingkat nasional dalam Lomba Moviolog Semarak Agustusan GTK Madrasah 2025 yang diselenggarakan oleh Direktorat GTK Madrasah, Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI.

Pengumuman resmi hasil lomba disampaikan melalui akun Instagram @gtkmadrasah pada Selasa (14/10). Linara dinobatkan sebagai juara kedua setelah menampilkan karya moviolog berjudul “Integraka: Integritas Merdeka_Menjaga Rumus Bangsa”, sebuah monolog reflektif yang memadukan antara logika matematika, filosofi perjuangan, dan semangat kemerdekaan.

Pelaksana tugas Kepala kantor Kemenag kabupaten Banjarnegara H. Much. Subhan melalui pesan WhatsApp menyampaikan apresiasinya.

“Masya Allah, Tabarakallah…Selamat dan sukses kepada Mba Linara, semoga akan terus meningkatkan semangatnya dalam berkarya. Terima kasih telah mengharumkan Kemenag Banjarnegara di ajang tingkat nasional. Selamat!” tulis H. Muh. Subhan.

Sementara Kepala MTs Negeri 1 Banjarnegara, H. Yatiman, mengungkapkan rasa bangga dan haru atas prestasi ini.

 “Alhamdulillah, Bu Linara telah membawa nama baik madrasah di kancah nasional. Karya beliau membuktikan bahwa guru madrasah memiliki kreativitas tinggi dan mampu menginspirasi melalui media yang artistik. Kami berharap prestasi ini menular kepada guru dan siswa lain untuk terus berinovasi,” ujar Yatiman.

Moviolog “Integraka: Integritas Merdeka_Menjaga Rumus Bangsa” menampilkan sosok guru matematika yang merenungkan makna kemerdekaan melalui rumus kehidupan. Dalam monolognya, Linara menyampaikan dengan penuh penghayatan:

“Di kelas ini, aku tak hanya menghitung bilangan, aku menghitung harapan. Aku tak sekadar mencari hasil, aku mencari makna dari proses yang tak pernah singkat. Karena merdeka… bukanlah hasil akhir, melainkan limit perjuangan yang tak terhingga.”

Melalui karya ini, Linara ingin menunjukkan bahwa matematika bukan sekadar angka, melainkan juga sarana untuk memahami kehidupan dan nilai perjuangan. Ia menutup moviolognya dengan kalimat yang sangat menyentuh:

“Karena di ruang kelas sederhana ini, aku percaya, satu guru, sejuta mimpi, dan tak terhingga cinta…bisa membuat Indonesia selalu menemukan jawabannya.”

Wakil Kepala Madrasah bidang Kurikulum, Hj. Yuniyati, menilai keberhasilan Linara sangat sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka.

“Bu Linara mampu menerjemahkan filosofi Kurikulum Merdeka dalam bentuk karya nyata. Melalui moviolognya, ia menunjukkan bagaimana guru dapat mengajar dengan hati dan membangun karakter bangsa lewat pendekatan kreatif,” jelas Yuniyati.

Sementara itu, Linara sendiri mengaku tidak menyangka akan meraih juara nasional.

“Saya membuat moviolog ini dengan semangat ingin menghadirkan kemerdekaan dalam perspektif seorang guru matematika. Bahwa di balik angka dan rumus, ada nilai perjuangan, moral, dan cinta tanah air yang harus terus diajarkan kepada peserta didik,” tuturnya dengan mata berbinar.

Rekan sejawatnya, Novia Fajriati Alqomar, turut memberikan apresiasi.

“Karya Bu Linara sangat menggugah. Ia berhasil menjadikan matematika sebagai bahasa perjuangan yang indah. Kami semua bangga dan ikut termotivasi untuk ikut berkarya,” ujarnya.

Hal senada disampaikan oleh Hj. Umi Mahmudah, yang menilai keberhasilan Linara menjadi inspirasi bagi seluruh guru madrasah.

“Masya Allah…luar biasa…kereeen…selamat Bu Linara. MTs Negeri 1 Banjarnegara… semakin mendunia!  Bu Linara membuktikan bahwa kreativitas guru madrasah tidak memiliki batas. Prestasi ini menjadi bukti bahwa madrasah mampu melahirkan pendidik yang tidak hanya kompeten, tetapi juga penuh jiwa seni dan nasionalisme,” ungkapnya.

Dengan torehan prestasi ini, MTs Negeri 1 Banjarnegara kembali menegaskan posisinya sebagai madrasah berprestasi di tingkat nasional. Tidak hanya peserta didiknya yang berinovasi, tetapi para gurunya pun aktif menunjukkan karya nyata yang menginspirasi.

“Kami berharap semangat Bu Linara terus menular, menjadikan madrasah sebagai ruang yang merdeka untuk berpikir, berkreasi, dan berkontribusi bagi bangsa,” pungkas H. Yatiman. (Fy/La)

Skip to content