Menggugat Tradisi “Basa-Basi”: KUA Pagentan Soroti Krisis Ketulusan dalam Interaksi Sosial

Banjarnegara (Humas) – Kebiasaan sosial yang mengakar kuat di masyarakat, yaitu “basa-basi” atau tawaran sekadar formalitas, kini mendapat sorotan tajam. Praktik yang sering dianggap etika sosial sederhana ini dinilai menyimpan bahaya laten berupa ketidakjujuran niat dan potensi merusak hubungan antarsesama.

Peringatan keras ini disampaikan oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Pagentan melalui Penyuluh Agama Islam, M. Syaiful Abidin, dalam kegiatan Bimbingan Penyuluhan Keagamaan yang diselenggarakan oleh Majelis Taklim (MT) Al-Ummahatush Shalihah Aribaya. Acara yang bertajuk “Hati-Hati Jika Berbasa-Basi” tersebut berlangsung di Gedung TK Pertiwi Buah Hati Aribaya pada Kamis (27/11/2025) dan dihadiri oleh 26 anggota majelis taklim.

Dalam paparannya, Syaiful Abidin secara lugas membedah perbedaan fundamental antara interaksi yang dilandasi niat tulus dengan interaksi yang hanya berupa “basa-basi kosong”. Ia menekankan bahwa dalam ajaran Islam, setiap ucapan dan tawaran—sekecil apa pun itu, seperti menawarkan makanan atau bantuan—harus menjadi cerminan dari kejujuran hati.

“Bukan sekadar basa-basi, tetapi karena memang ingin berbagi,” tegas Syaiful Abidin.

Menurutnya, dampak paling merusak dari basa-basi yang tidak tulus adalah munculnya perasaan kecewa di pihak pemberi saat tawaran tersebut benar-benar diterima. Jika seseorang menawarkan sesuatu, tetapi hatinya justru merasa berat atau kecewa ketika tawarannya disambut, maka itu adalah sinyal jelas bahwa tawaran tersebut hanyalah formalitas, bukan didorong oleh ketulusan ingin memberi dan berbagi.

“Indikator paling sederhana dari ketulusan niat adalah respons hati kita saat tawaran tersebut diterima. Jika kita senang dan bahagia, itu tulus. Jika kita malah kecewa, hati-hati, itu basa-basi kosong,” jelasnya.

Syaiful Abidin mengingatkan bahwa sebagai seorang Muslim, menjaga perkataan dan menepati janji adalah prinsip utama. Basa-basi kosong, meskipun terlihat remeh, berpotensi melanggar prinsip ini dan merusak jalinan silaturahmi yang telah susah payah dibangun. Sikap tulus dalam setiap interaksi, tawaran, dan perkataan adalah fondasi akhlak yang perlu terus diperkuat, alih-alih berlindung di balik formalitas sosial.

Ketua MT Al-Ummahatush Shalihah Aribaya, Irfa Aryanti, menyampaikan apresiasi atas materi penyuluhan yang sangat relevan ini.

“Materi ini menjadi pengingat berharga bagi kami semua. Kami sering tidak sadar bahwa apa yang kami anggap sepele seperti basa-basi, ternyata bisa bernilai ibadah jika dilakukan dengan niat yang benar, dan sebaliknya bisa menjadi sumber kekecewaan jika hanya formalitas,” ujar Irfa Aryanti, yang berharap anggota majelis taklim dapat segera mengimplementasikan ilmu ini dalam kehidupan sehari-hari.

Antusiasme peserta tercermin dari sesi diskusi yang hidup, di mana para anggota berbagi pengalaman mereka mengenai sulitnya membedakan antara tawaran tulus dan basa-basi dalam pergaulan. Kegiatan ini diharapkan menjadi dorongan untuk menciptakan interaksi sosial yang lebih jujur, tulus, dan penuh integritas, dimulai dari hal-hal kecil. 

(msa/ azd)

Skip to content