Penyuluh Agama dan Staf KUA Mandiraja Gelar Kerja Bakti Bersama di GSKI Somawangi, Wujud Nyata Toleransi Antarumat Beragama

Banjarnegara(Humas) — Hari ini, Kamis (5/2/2026) pagi di GSKI Somawangi terasa riuh tetapi hangat. Penyuluh agama dan staf KUA Mandiraja bekerja berdampingan dengan tokoh agama dan tokoh aliran kepercayaan membersihkan gereja. Di bawah koordinasi Pendeta Heru Siswanto, sapu, lap, dan ember menjadi alat untuk menyiapkan ruang ibadah yang nyaman sekaligus memperlihatkan wujud nyata toleransi. 

Dari KUA hadir Hendriyanto, Imam Khambali, Sunaryo, Istiqomah, Suswati, dan Mariyah. Penyuluh agama lain seperti Hana dan Dian turut serta. Semua pihak terlibat menyapu lantai, membersihkan jendela, merapikan kursi, hingga mengecek fasilitas pendukung. Suasana gotong‑royong ini dianggap penting karena melampaui sekadar kebersihan fisik.

Pendeta Heru mengingatkan makna sosial yang tersimpan di balik tindakan sehari‑hari. “Kebersihan tempat ibadah adalah cermin keharmonisan komunitas. Kita bekerja bersama untuk menunjukkan bahwa perbedaan tidak menghalangi kepedulian dan rasa memiliki,” ujarnya. Pernyataan ini menjadi penguat bahwa toleransi bukan hanya slogan, melainkan praktik bersama.

Tambahan petikan datang dari salah satu staf KUA yang ikut membantu. Hendriyanto menyampaikan harapan agar kegiatan ini terus berlanjut. “Saat kita membersihkan dengan tangan sendiri, rasa memiliki terhadap sesama juga tumbuh. Semoga kegiatan seperti ini tidak hanya berhenti di hari ini, melainkan menjadi budaya yang dijiwai semua warga,” katanya. Ucapan ini menguatkan konsep bahwa peran pemerintah kecamatan dan masyarakat saling melengkapi.

GSKI sendiri memiliki latar yang menegaskan keberadaannya dalam ekosistem keagamaan resmi. Pada November 2018 GSKI bergabung dengan lembaga gerejawi nasional, dan pada Desember 2018 pemerintah melalui keputusan Ditjen Bimas Kristen Protestan Kementerian Agama RI mengakui GSKI secara resmi. Informasi ini tercatat dalam sumber resmi yang terbuka untuk publik.

Kegiatan di GSKI juga diliput Satelit TV Banyumas. Liputan media lokal ini menjadi jembatan agar masyarakat luas dapat menyaksikan tindakan toleransi hari ini. Satelit TV menyebarkan siaran ke beberapa kabupaten termasuk Banjarnegara. 

Hasilnya, GSKI tidak hanya bersih secara fisik, tetapi pula menjadi ruang yang mempertegas semangat saling menghormati. Aktivitas pagi ini mengawali rangkaian kegiatan di tempat lain, memperlihatkan bahwa keberagaman bisa dirajut lewat kerja nyata, sederhana, dan konsisten. 

(ds/m,azd)