Banjarnegara (Humas) – Spiritualitas bulan suci Ramadan sejatinya bukanlah sebuah momentum musiman yang datang dan pergi begitu saja. Semangat ibadah yang membara selama satu bulan penuh tersebut harus mampu ditransformasikan menjadi energi kebaikan yang langgeng di bulan-bulan berikutnya.
Pesan mendalam inilah yang menjadi inti sari dari kegiatan bimbingan dan penyuluhan agama yang dilaksanakan oleh Penyuluh Agama Islam fungsional KUA Pagentan, Sutrisno, bertempat di Majelis Taklim Nurul Iman, Desa Sokaraja, pada Jumat (8/5/2026). Di hadapan sekitar 30 jamaah yang hadir dengan antusias, Sutrisno membedah tema besar bertajuk “Inspirasi Ibadah Ramadan untuk Bulan Lainnya”.
Dalam paparannya, Sutrisno menekankan bahwa keberhasilan ibadah Ramadan seseorang tidak hanya dilihat dari seberapa banyak ia mengkhatamkan Al-Qur’an atau seberapa rajin ia tarawih, melainkan dari perubahan perilaku dan konsistensi ibadahnya pasca-lebaran.
“Ramadan adalah madrasah, tempat kita berlatih. Sangat disayangkan jika kedisiplinan shalat tepat waktu, kedermawanan melalui sedekah, dan kedekatan dengan Al-Qur’an menguap begitu saja saat Syawal berakhir. Kita harus membawa ‘ruh’ Ramadan itu ke bulan-bulan lainnya agar kualitas takwa kita benar-benar meningkat, bukan sekadar grafik yang naik-turun secara musiman,” ujar Sutrisno. dalam sela-sela penyuluhannya.
Ia juga memberikan tips praktis kepada jamaah untuk menjaga ritme ibadah, seperti membiasakan puasa sunnah Senin-Kamis sebagai pengganti puasa wajib dan menyisihkan sedikit rezeki setiap hari Jumat sebagai kelanjutan dari tradisi berbagi di bulan Ramadan.
Kegiatan yang berlangsung khidmat di tengah sejuknya udara Desa Sokaraja ini mendapat sambutan hangat dari pengurus maupun anggota Majelis Taklim. Yasir, selaku Ketua Majelis Taklim Nurul Iman, menyampaikan rasa terima kasihnya atas pendampingan rutin yang dilakukan oleh pihak KUA Pagentan.
“Kehadiran Pak Sutrisno selalu memberikan warna baru bagi kami. Tema hari ini sangat menyentuh, karena jujur saja, mempertahankan semangat setelah Ramadan itu jauh lebih berat daripada saat menjalaninya. Kami merasa diingatkan kembali agar tidak ‘pensiun’ beribadah setelah Idul Fitri,” ungkap Yasir dengan penuh syukur.
Kegiatan penyuluhan ini merupakan bagian dari program kerja rutin KUA Pagentan dalam memberikan edukasi keagamaan yang inklusif dan berkelanjutan bagi masyarakat di wilayah pedesaan. Melalui bimbingan ini, diharapkan masyarakat Desa Sokaraja tidak hanya cerdas secara ritual, tetapi juga memiliki ketahanan mental dan spiritual yang kokoh dalam menghadapi dinamika kehidupan sehari-hari.
Acara ditutup dengan doa bersama dan sesi tanya jawab interaktif yang menunjukkan tingginya dahaga spiritual masyarakat akan ilmu agama yang menyejukkan.
(3S/azd)







