Banjarnegara (Humas) – Nuansa religius terasa begitu kental di Dusun Kalikidang, Desa Gumingsir, pada Jumat sore (22/5/2026). Puluhan ibu-ibu anggota Majelis Taklim Al-Istiqomah tampak berduyun-duyun mendatangi salah satu rumah warga yang menjadi tuan rumah pertemuan rutin pekan ini. Kehadiran mereka bukan sekadar untuk bersilaturahmi, melainkan untuk menimba ilmu dalam kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan Agama Islam yang menghadirkan narasumber Alfiana Nurhidayah.
Acara dimulai tepat pukul 15.00 WIB, dibuka dengan pembacaan kalam ilahi dan selawat nabi yang menggema syahdu di ruang tamu yang telah disulap menjadi tempat pengajian sederhana namun khidmat. Duduk lesehan beralaskan karpet, para jamaah menyimak dengan saksama setiap untaian kalimat yang disampaikan. Hadir di tengah-tengah mereka, Ibu Nurdiana selaku Ketua Majelis Taklim Al-Istiqomah, yang memberikan dukungan penuh terhadap keberlangsungan syiar Islam di wilayah tersebut.
Dalam kesempatan tersebut, Alfiana Nurhidayah menyampaikan materi yang cukup mendalam dengan tema “Mengenal Perkara Penghalang Masuk Surga”. Dengan pembawaan yang tenang namun lugas, Alfiana menjelaskan bahwa meskipun seseorang rajin beribadah secara ritual, ada hal-hal non-teknis yang sering kali dianggap sepele namun justru bisa menjadi penghambat besar di akhirat kelak.
Alfiana menekankan bahwa hubungan antarmanusia (hablum minannas) memiliki bobot yang sangat krusial dalam menentukan nasib seseorang di yaumul akhir. Beliau menyoroti bagaimana lisan dan sikap terhadap tetangga dapat menghapus pahala-pahala kebaikan yang telah dikumpulkan bertahun-tahun.
“Surga adalah tempat yang suci, dan hanya mereka yang berhati bersih yang dapat memasukinya. Sering kali, penghalang terbesar kita bukanlah kurangnya rakaat shalat, melainkan adanya sifat sombong, memutuskan tali persaudaraan, serta lisan yang menyakiti sesama tanpa ada rasa penyesalan,” ujar Alfiana Nurhidayah di hadapan jamaah.
Lebih lanjut, penyuluhan ini juga membahas mengenai pentingnya menjaga amanah dan menghindari sifat iri dengki. Di lingkungan pedesaan yang erat dengan kebersamaan, menjaga kerukunan adalah bagian dari ibadah. Alfiana mengingatkan agar para jamaah tidak terjebak pada kesalehan pribadi semata, namun juga harus mewujudkan kesalehan sosial.
Nurdiana, sebagai Ketua Majelis Taklim, memberikan apresiasi mendalam atas materi yang disampaikan. Menurutnya, pemilihan tema ini sangat tepat untuk merefleksikan diri di tengah kehidupan bermasyarakat yang dinamis.
“Kami merasa sangat diingatkan oleh penjelasan Ibu Alfiana. Terkadang kita merasa sudah cukup dengan shalat dan puasa, padahal urusan hati dan bagaimana kita bersikap kepada orang di sekitar kita justru yang paling berat pertanggungjawabannya. Pertemuan di rumah warga seperti ini membuat ilmu yang disampaikan terasa lebih dekat dan masuk ke hati,” ungkap Ibu Nurdiana dengan penuh haru.
Kegiatan yang berlangsung selama hampir dua jam tersebut diakhiri dengan sesi tanya jawab yang interaktif. Banyak jamaah yang antusias berkonsultasi mengenai cara membersihkan hati dan memperbaiki hubungan keluarga sesuai tuntunan syariat. Pertemuan ditutup dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Alfiana Nurhidayah, memohon agar seluruh warga Dusun Kalikidang senantiasa diberikan hidayah untuk tetap istiqomah dalam kebaikan.
Sinergi antara penyuluh agama, pengurus majelis taklim, dan kesediaan warga menyediakan tempat tinggalnya sebagai pusat ilmu, diharapkan dapat terus memupuk nilai-nilai religius di Desa Gumingsir. Semangat thalabul ilmi ini menjadi bukti bahwa keterbatasan sarana bukan penghalang bagi masyarakat untuk terus memperbaiki diri demi meraih ridha Allah Swt.
(an/azd)
