Banjarnegara – Perkembangan teknologi digital membawa perubahan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pola komunikasi dan dinamika hubungan dalam keluarga. Menyikapi hal tersebut, Kepala MI Ma’arif Al Falah Joyokusumo (MIMAU), Wahyul Khomisah, menyampaikan materi Dinamika Perkawinan di Era Digital dalam kegiatan pengembangan diri guru pada Kamis, 15 Oktober 2026, di Aula PP Salafiyah Al Falah Joyokusumo.(15/10)
Kegiatan yang berlangsung pukul 13.00–15.00 WIB ini menjadi kesempatan bagi para guru untuk memperluas wawasan mengenai tantangan kehidupan rumah tangga di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
Dalam materi Dinamika Perkawinan di Era Digital, pembahasan diarahkan pada bagaimana perkembangan teknologi memengaruhi interaksi pasangan dalam kehidupan sehari-hari. Kehadiran telepon pintar, media sosial, dan berbagai aplikasi komunikasi memberikan kemudahan untuk terhubung, tetapi juga memerlukan kebijaksanaan agar tidak mengurangi kualitas komunikasi secara langsung di dalam keluarga.
Penggunaan teknologi yang tidak seimbang dapat menjadi tantangan ketika perhatian terhadap perangkat digital lebih besar daripada perhatian terhadap pasangan dan anggota keluarga. Oleh karena itu, diperlukan keterbukaan, kepercayaan, komunikasi yang sehat, serta kesepakatan bersama dalam menggunakan teknologi agar keharmonisan rumah tangga tetap terjaga.
Bagi seorang guru, keseimbangan antara kehidupan profesional dan keluarga juga menjadi hal penting. Keluarga yang dibangun melalui komunikasi yang baik dan sikap saling menghargai dapat menjadi salah satu sumber dukungan dalam menjalankan amanah sebagai pendidik.
Wahyul Khomisah menekankan pentingnya menjaga kualitas komunikasi dan membangun hubungan keluarga yang sehat di tengah perkembangan zaman.
“Kemajuan teknologi hendaknya kita manfaatkan untuk hal-hal yang positif. Dalam kehidupan rumah tangga, komunikasi, keterbukaan, kepercayaan, dan sikap saling menghargai tetap menjadi hal penting yang perlu dijaga. Jangan sampai kemudahan teknologi justru membuat komunikasi dengan pasangan dan keluarga menjadi berkurang,” ungkap Wahyul Khomisah.
Ia juga mengajak para guru untuk menjadikan wawasan yang diperoleh sebagai bahan refleksi dalam menjalani kehidupan sehari-hari, baik sebagai pribadi, anggota keluarga, maupun pendidik.
“Sebagai guru, kita memiliki tanggung jawab di madrasah sekaligus dalam keluarga. Karena itu, kita perlu belajar mengelola waktu, menggunakan teknologi secara bijak, dan menjaga keseimbangan antara pekerjaan dengan kehidupan rumah tangga. Semoga kita dapat terus memperbaiki diri dan membangun keluarga yang harmonis,” tambah Wahyul Khomisah.
Melalui rangkaian kegiatan ini, MIMAU berupaya memberikan ruang belajar yang tidak hanya mendukung peningkatan keterampilan guru, tetapi juga memperkaya wawasan dalam menghadapi tantangan kehidupan modern. Dengan bekal komunikasi yang baik, kebijaksanaan dalam memanfaatkan teknologi, dan komitmen untuk terus belajar, para guru diharapkan mampu menjalankan peran di lingkungan keluarga maupun madrasah secara lebih optimal. (NF)
