Banjarnegara (Humas) – Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Mandiraja Hendriyanto melakukan pendampingan keterampilan kepada tiga jemaah Bengkel Hati melalui praktik pembuatan dawet ayu, Selasa (27/10/2026). Kegiatan yang berlangsung hingga menjelang sore tersebut menjadi bagian dari pendampingan penyuluh dalam mendorong keterampilan dan semangat kemandirian para jemaah melalui kegiatan yang sederhana, produktif, dan menyenangkan.
Pendampingan tidak berhenti pada penyampaian materi keagamaan, tetapi juga dapat diwujudkan melalui perhatian terhadap potensi dan keterampilan yang dimiliki jemaah. Dalam kegiatan tersebut, Hendriyanto mendampingi tiga jemaah Bengkel Hati secara langsung dalam proses pembuatan dawet ayu, mulai dari persiapan hingga praktik pengolahan.
Meski kegiatan berlangsung menjelang sore, semangat pendampingan tetap terjaga. Hendriyanto bersama para jemaah menjalani proses latihan dengan suasana akrab dan penuh keceriaan. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang untuk membangun kebersamaan serta menumbuhkan keberanian bagi para jemaah untuk mengembangkan keterampilan yang dapat dilakukan secara mandiri.
“Walaupun sudah menjelang sore, semangat untuk terus belajar dan mendampingi tetap harus dijaga. Hari ini kita berlatih membuat dawet ayu bersama para calon bos dawet ayu,” ujar Hendriyanto.
Menurutnya, keterampilan sederhana dapat menjadi langkah awal untuk menumbuhkan kepercayaan diri. Proses belajar juga tidak harus selalu berlangsung dalam suasana formal, tetapi dapat dilakukan melalui kegiatan yang dekat dengan keseharian dan menyenangkan.
“Yang penting bukan hanya hasilnya, tetapi semangat untuk belajar, mencoba, dan terus berusaha. Kalau dikerjakan bersama-sama, suasananya menjadi lebih ringan dan menyenangkan,” jelasnya.
Kegiatan praktik pembuatan dawet ayu berlangsung dengan suasana ceria. Para jemaah tampak antusias mengikuti proses latihan. Keceriaan tersebut menjadi bagian dari kekuatan kebersamaan dalam pendampingan, terlebih kegiatan dilakukan tanpa menjadikan keuntungan materi sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
Bagi Hendriyanto, pendampingan seperti ini merupakan bagian dari upaya membangun semangat para jemaah agar tetap aktif, produktif, dan memiliki keterampilan yang dapat dikembangkan. Proses sederhana dalam membuat minuman tradisional pun dapat menjadi sarana belajar untuk membangun ketekunan, kerja sama, dan keberanian memulai sesuatu.
Kegiatan tersebut juga memperlihatkan bahwa pendampingan penyuluh dapat hadir dalam berbagai bentuk sesuai dengan kebutuhan jemaah. Suasana yang penuh canda dan kegembiraan justru dapat membuat proses belajar terasa lebih dekat dan tidak membebani.
Meskipun tidak selalu menghasilkan keuntungan secara langsung, kegiatan bersama tetap memberikan pengalaman dan kebahagiaan tersendiri bagi para peserta. Semangat untuk terus belajar menjadi modal penting agar keterampilan yang diperoleh dapat dikembangkan secara bertahap.
Pendampingan pembuatan dawet ayu di Bengkel Hati pun menjadi salah satu bentuk ikhtiar Hendriyanto dalam menjaga semangat para jemaah. Dari kegiatan sederhana tersebut, tumbuh kebersamaan, keterampilan, dan optimisme untuk terus bergerak menuju kemandirian.
(m/azd)
