Banjarnegara (Humas) — Upaya memutus rantai kemiskinan dan meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat terus dilakukan oleh Kementerian Agama Kabupaten Banjarnegara. Salah satunya melalui kegiatan penyuluhan dan pembinaan kelompok marginal yang dilaksanakan oleh Nasirin, Penyuluh Agama Islam Fungsional KUA Banjarnegara, pada Senin (26/1/2026), pukul 08.00–12.00 WIB, dengan jumlah peserta mencapai 50 orang.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum peluncuran program “Creative Empowerment Hub 2026”, sebuah inisiatif pemberdayaan yang menyasar kelompok masyarakat terpinggirkan, meliputi warga binaan, penyandang disabilitas, serta remaja putus sekolah di wilayah perkotaan Banjarnegara.
Program ini dirancang untuk menggabungkan penguatan mental-spiritual dengan keterampilan ekonomi kreatif. Salah satu kelas yang paling diminati peserta adalah Creative Upcycling, yakni pelatihan mengolah limbah industri menjadi produk dekorasi rumah bernilai jual tinggi.
“Kami tidak ingin peserta hanya sekadar bisa membuat barang, tetapi juga memahami estetika serta kebutuhan pasar, bahkan pasar global,” ujar Nasirin yang juga bertindak sebagai mentor sekaligus kurator desain dalam program tersebut. Menurutnya, kelompok marginal memiliki daya juang tinggi yang jika diarahkan melalui kreativitas, mampu melahirkan produk yang unik dan bernilai ekonomi.
Berbeda dengan pelatihan pada tahun-tahun sebelumnya, kurikulum Creative Empowerment Hub 2026 diperluas dengan berbagai materi pendukung, antara lain fotografi produk menggunakan ponsel pintar, literasi marketplace dan sistem pembayaran digital, serta personal branding dan storytelling untuk membangun kepercayaan diri peserta dalam memasarkan produknya.
Dukungan juga datang dari pemerintah daerah. Melalui Dinas Sosial Kabupaten Banjarnegara, pemerintah menyatakan komitmennya untuk memfasilitasi pemasaran hasil karya peserta dengan menyediakan gerai khusus di pusat perbelanjaan kota.
“Tujuan utama program ini adalah inklusivitas. Kelompok marginal tidak boleh hanya menjadi penonton dalam pertumbuhan ekonomi kreatif, tetapi harus menjadi pemain,” tegas Kepala Dinas Sosial Kabupaten Banjarnegara dalam sambutannya.
Antusiasme peserta terlihat tinggi sepanjang kegiatan. Salah satunya Budi (22), peserta yang sebelumnya bekerja sebagai pemulung, mengaku optimistis dengan keterampilan baru yang diperolehnya.
“Dulu saya melihat botol plastik hanya sebagai sampah seharga seribu rupiah. Sekarang, saya belajar mengolahnya menjadi lampu hias yang bisa dijual hingga seratus ribu rupiah secara daring,” ungkapnya.
Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari seluruh peserta karena menjadi program pertama di Banjarnegara yang secara khusus memadukan pembinaan keagamaan, penguatan mental, dan pemberdayaan ekonomi kreatif bagi kelompok marginal. Melalui Creative Empowerment Hub 2026, diharapkan peserta mampu mencapai kemandirian finansial, meningkatkan kepercayaan diri, serta memperoleh pengakuan sosial di tengah masyarakat.
