Banjarnegara (Humas) — Media sosial kini menjadi salah satu alat komunikasi yang menempati posisi teratas dalam hal ketertarikan dan kebutuhan sebagian besar masyarakat, mulai dari usia balita hingga lanjut usia. Berbagai kebutuhan manusia mulai dari ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, hingga jodoh kini dapat ditemukan jawabannya melalui media sosial.
Fenomena tersebut turut dialami oleh A, calon pengantin (catin) perempuan asal Sigaluh, dan M, catin laki-laki asal Magetan. Keduanya mendaftarkan pernikahan untuk pelaksanaan pada pertengahan Desember di KUA Kecamatan Sigaluh. A, seorang janda dengan satu anak, menceritakan kisah pertemuannya dengan M hingga akhirnya sama-sama sepakat untuk menikah.
A mengenal M yang berusia setahun lebih muda sejak dua setengah tahun lalu, tak lama setelah ia bercerai dari suami pertamanya. Awalnya, keduanya saling berbalas komentar di media sosial. Interaksi itu berlanjut menjadi percakapan melalui pesan pribadi, hingga akhirnya tumbuh kecocokan dan komitmen untuk melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan.
Dalam kegiatan Bimbingan Catin Mandiri yang disampaikan oleh Penyuluh Agama Islam, Khalimatus Sya’diyah, di Balai Nikah KUA Sigaluh pada Kamis (27/11/2025), ia mengangkat tema “Pentingnya Niat dan Komitmen dalam Berumah Tangga.” Khalimah menegaskan bahwa niat merupakan fondasi utama dalam membangun rumah tangga.
“Niat sangat menentukan apa yang kita dapatkan,” ujarnya kepada kedua catin.
Khalimah menjelaskan beberapa motif yang sering menjadi dasar seseorang memilih pasangan:
- Motif kecantikan, yaitu menikahi perempuan karena parasnya.
- Motif kekayaan, menikahi karena harta yang dimiliki.
- Motif keturunan, menikahi karena berasal dari keluarga terpandang.
- Motif akhlak atau agama, yang menjadi landasan paling kokoh dalam membangun rumah tangga.
Menurutnya, kecantikan, kekayaan, dan kedudukan dapat berkurang atau hilang seiring waktu. Namun, akhlak dan agama merupakan nilai yang mampu menguatkan pernikahan dan membawa kebaikan dunia dan akhirat.
Penjelasan tersebut disambut baik oleh para catin. A mengakui bahwa pernikahan pertamanya gagal karena kurangnya kesamaan niat dan tujuan. M pun mengangguk tanda setuju.
Selain menekankan pentingnya niat, Khalimah juga menyampaikan pentingnya komitmen antara suami dan istri. Ia memberikan ilustrasi sederhana: pasangan suami istri ibarat sandal jepit yang dapat menempuh perjalanan jauh jika masing-masing menjalankan perannya.
“Sandal kanan dan kiri memiliki posisi berbeda, tetapi dapat mencapai tujuan yang sama,” terangnya.
Melalui bimbingan tersebut, diharapkan para catin benar-benar memahami dan mempersiapkan diri untuk membangun rumah tangga yang kokoh, penuh komitmen, serta terwujud menjadi keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah.
(ks/azd)







