Banjarnegara – Ada suasana berbeda di MIFABARA setiap awal pekan hingga Kamis. Aroma harum rempah dari dapur guru tercium hingga halaman madrasah. Kegiatan memasak kini menjadi rutinitas yang dinantikan para guru. Namun, bukan sekadar kegiatan memasak biasa, melainkan kegiatan literasi dari dapur—mengolah hasil kebun madrasah sambil mengenali manfaat bahan masakan.(30/10)
Setiap Senin sampai Kamis, para guru bergantian mengolah hasil panen dari kebun madrasah, mulai dari sayur singkong, daun pepaya, daun ubi jalar, serai, kunyit, lengkuas, cabai, hingga rempah-rempah lainnya. Kebun madrasah yang dirawat bersama guru dan siswa itu kini menjadi sumber bahan pangan segar yang diolah langsung di dapur madrasah.
“Setiap bahan masakan kami jadikan bahan literasi. Saat memasak, kami saling mengenalkan manfaat setiap bahan. Misalnya daun singkong kaya serat, daun pepaya membantu pencernaan, kunyit mengandung antioksidan, dan serai bisa menjaga daya tahan tubuh,” tutur Rina. Ia menambahkan bahwa kegiatan memasak ini bukan hanya memenuhi kebutuhan dapur, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran kontekstual yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan praktik kehidupan sehari-hari.
Kegiatan ini juga menjadi ruang bagi para guru untuk mempererat kebersamaan. Mereka bergotong royong sejak memetik sayuran, menyiapkan bahan, hingga menyantap hasil masakan bersama. Dari dapur sederhana itu, tumbuh rasa kekeluargaan dan semangat gotong royong yang menjadi ciri khas MIFABARA.
Kepala Madrasah Durotun Nafisah, menyampaikan bahwa program ini merupakan bagian dari gerakan pembiasaan hidup sehat, cinta lingkungan, dan mandiri di madrasah. “Kami ingin menanamkan nilai-nilai kehidupan. Dari kebun kita belajar menanam dan bersyukur, dari dapur kita belajar memaknai hasil bumi dan berbagi kebahagiaan,” ujarnya.
Menariknya, kegiatan ini juga melibatkan siswa secara tidak langsung. Banyak siswa yang penasaran dan ikut memanen ketika guru memetik hasil kebun. Mereka belajar mengenal jenis tanaman, nama bumbu dapur, serta manfaatnya. Hal ini membuat pembelajaran menjadi lebih hidup dan dekat dengan realitas.
Melalui kegiatan literasi dari dapur ini, MIFABARA tidak hanya menanam sayur di kebun, tetapi juga menanam nilai-nilai kebaikan, kebersamaan, dan rasa syukur di hati setiap guru dan siswa. Dari tanah madrasah tumbuh sayuran, dari dapur madrasah tumbuh inspirasi.(rin/nas)







