Banjarnegara (Humas) — Suasana penuh kekhusyukan dan semangat menuntut ilmu terasa dalam kegiatan penyuluhan keagamaan yang diselenggarakan di Majelis Taklim Aisyiyah Wanadadi, bertempat di Gedung Dakwah Wanadadi, Selasa (19/5/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan Penyuluh Agama Islam KUA Wanadadi, Arif Kholdun, yang menyampaikan materi bertema “Kedudukan salat dalam Islam.”
Dalam penyampaiannya, Arif Kholdun mengajak jamaah untuk kembali menyadari bahwa salat bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan fondasi utama yang menentukan kualitas keimanan seorang muslim. Dengan bahasa yang hangat dan menyentuh, beliau menegaskan bahwa salat adalah tiang penyangga kehidupan spiritual umat Islam.
“Kalau tiang sebuah bangunan roboh, maka bangunannya pun akan runtuh. Begitu pula salat. Ketika salat mulai ditinggalkan dan dilalaikan, maka perlahan akhlak, ketenangan, bahkan keberkahan hidup juga ikut hilang,” tutur Arif Kholdun di hadapan jamaah.
Ia menjelaskan bahwa kedudukan salat sangat istimewa dalam Islam. Pertama, salat disebut sebagai tiang agama sebagaimana hadis Rasulullah saw kepada Mu’adz bin Jabal: “Pokok perkara adalah Islam, tiangnya adalah salat, dan puncaknya adalah jihad.” (HR. Tirmidzi). Hadis tersebut menunjukkan bahwa salat merupakan penyangga utama tegaknya agama dalam diri seorang muslim.
Selain itu, salat juga merupakan rukun Islam yang paling utama setelah syahadatain. salat menjadi pembeda nyata antara keimanan dan kelalaian seorang hamba kepada Allah Swt.
Arif Kholdun juga mengingatkan bahwa salat adalah amalan pertama yang akan dihisab di hari kiamat. Jika salat seseorang baik, maka baik pula amal lainnya. Sebaliknya, jika salatnya rusak, maka amal lainnya pun ikut terancam.
“Jangan sampai kita sibuk mengejar dunia, tetapi lalai terhadap ibadah yang pertama kali akan ditanya Allah Swt nanti. salat bukan beban, melainkan kebutuhan ruhani setiap manusia,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, beliau turut menyampaikan bahwa salat menjadi wasiat terakhir Rasulullah saw menjelang wafat. Nabi terus mengingatkan umatnya agar menjaga salat dan memperhatikan hak-hak sesama.
Tak hanya itu, Allah Swt juga mencela orang-orang yang melalaikan salat sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Ma’un. Hal ini menjadi peringatan agar umat Islam tidak meremehkan waktu dan kewajiban salat.
Keistimewaan lain dari ibadah salat adalah perintahnya diterima langsung oleh Rasulullah SAW tanpa perantara malaikat, yakni saat peristiwa Isra Mi’raj. Ini menunjukkan betapa agung dan mulianya kedudukan salat dibanding ibadah lainnya.
Arif Kholdun juga menekankan bahwa salat tetap wajib ditunaikan meskipun seseorang tertidur atau lupa. Dalam syariat Islam, salat yang terlewat wajib diqadha sebagai bentuk tanggung jawab seorang muslim terhadap kewajibannya kepada Allah Swt.
“Selama nafas masih berhembus, jangan pernah tinggalkan salat. Karena salat adalah cahaya hidup, penolong hati, dan penghubung seorang hamba dengan Rabb-nya,” pungkasnya penuh haru.
Kegiatan penyuluhan berlangsung interaktif dan mendapat antusias tinggi dari jamaah Majelis Taklim Aisyiyah Wanadadi. Para peserta berharap kegiatan seperti ini terus dilaksanakan untuk memperkuat pemahaman keagamaan dan meningkatkan kualitas ibadah masyarakat.
Melalui kegiatan penyuluhan ini, diharapkan nilai-nilai keislaman semakin tertanam kuat dalam kehidupan umat, serta mampu membentuk masyarakat yang religius, harmonis, dan berakhlakul karimah sejalan dengan semangat Kementerian Agama dalam membangun umat yang moderat dan berkeadaban.
(NN/azd)







