Banjarnegara (Humas) – Majelis Taklim Al-Zabid Desa Blambangan, Kecamatan Bawang, mendadak khusyuk dan puluhan jemaah yang hadir tampak larut dalam perenungan saat menyimak penyuluhan keagamaan mendalam bertajuk “Kaya yang Sesungguhnya: Mengisi Hati dengan Rasa Syukur dan Qanaah”. (6/10/2026)
Ceramah menyejukkan tersebut disampaikan langsung oleh Ustadz Bustanul Arifin, Penyuluh Agama Islam fungsional Kecamatan Bawang.
Dalam tausiyahnya, Bustanul Arifin menekankan bahwa standar kekayaan yang dikejar manusia saat ini sering kali keliru. Banyak orang terjebak dalam perlombaan materi yang tiada habisnya, hingga lupa cara untuk bahagia. Padahal, Islam telah memberikan kunci kebahagiaan sejati melalui konsep Qanaah (merasa cukup atas pemberian Allah) dan syukur.
“Kaya yang sesungguhnya bukanlah tentang seberapa banyak harta yang kita kumpulkan, atau seberapa megah rumah yang kita bangun. Kekayaan sejati adalah ketika hati kita merasa cukup, tenang, dan lapang menerima setiap ketetapan Allah,” ujar Bustanul di hadapan para jemaah.
Dalam paparannya, Bustanul Arifin menjelaskan bahwa tantangan terbesar masyarakat hari ini adalah sulitnya membedakan antara “kebutuhan” dan “keinginan”. Gempuran informasi dan gaya hidup sering kali membuat manusia merasa selalu kekurangan.
“Hidup ini sebenarnya murah, yang mahal itu adalah tarikan gengsi dan keinginan kita yang tak ada habisnya. Sifat Qanaah yaitu rida dan merasa cukup dengan apa yang ada di tangan adalah satu-satunya rahasia agar hati kita bisa istirahat dengan tenang,” jelas Bustanul di hadapan puluhan jemaah yang hadir.
Beliau juga menambahkan bahwa sifat Qanaah bukan berarti membuat umat Islam menjadi malas atau enggan bekerja keras. Sebaliknya, Qanaah adalah benteng mental agar setelah manusia berikhtiar maksimal, mereka tidak diperbudak oleh hasil, tidak mudah iri dengan pencapaian orang lain, dan terhindar dari penyakit hati seperti kufur nikmat.
Suasana majelis taklim terasa hidup dengan dialog interaktif. Beberapa jemaah tampak mengangguk setuju saat pemateri memberikan contoh-contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari di pedesaan, seperti menyikapi hasil panen atau rezeki harian keluarga.
Kegiatan rutin pengajian di Majelis Taklim Al-Zabid ini diharapkan dapat terus menjadi wadah penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) bagi jemaah, sehingga tercipta masyarakat yang tidak hanya sejahtera secara sosial, tetapi juga damai dan tenteram secara spiritual. Acara kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh sang penyuluh.
(BA/azd)
