Kelas Riset Kelas MTs N 2 Banjarnegara Akan Teliti Pembuatan Kopi Dari Biji Salak

Banjarnegara – MTs Negeri 2 Banjarnegara mempunyai beberapa kelas unggulan diantaranya kelas riset. Kelas riset ini mempelajari tentang riset rekayasa dan juga sains. Sudah hampir satu semester pembelajaran berlangsung untuk menggali potensi peserta didik agar mempunyai rasa ingin tahu yang kuat guna meningkatkan kemampuan dalam bidang riset.

Peserta didik diarahkan untuk belajar berpikir kreatif, mencari ide-ide baru untuk dikembangkan dalam bidang riret. Pembina riset sains M. Hanis dan Ismiana Fitriyanti mengajarkan mereka berpikir kritis untuk melihat keadaan dilingkungan, kemudian mencoba hal yang baru bagi mereka. Dengan bantuan media sosial peserta didik mencari informasi yang mereka butuhkan, sehingga pada hari Rabu, (10/11) mereka ingin mencoba banyak hal diantaranya membuat kopi dari biji salak, mencoba membuat kripik dari pepaya karena disekitar mereka banyak pepaya, mencoba membuat puding dari kulit buah naga.

Presentasi rencana penelitian dilakukan untuk mengetahui bagaimana proses pembuatannya dan alasan-alasan yang peserta didik penelitian tersebut.

Kelompok pertama mempunyai alasan yang menarik mengapa melakukan penelitian pembuatan kopi dari biji salak. Alasannya karena Banjarnegara merupakan salah satu kabupaten penghasil buah salak yang besar kemudian menurut Fikri Fathoni penelitian yang mereka baca biji salak mengandung 5,75% protein, lemak 0,42%, karbohidrat 89,67% senyawa fenol 0,69 %, dan abu 4,16% untuk itu mereka ingin membuat kopi dari biji salak.

Kelompok keduapun mempunyai alasan yang unik, salah satunya dilingkungan peserta didik banyak pepaya dan biasanya petani pepaya hanya bisa menjual pepaya mereka dengan harga yang murah. Pemikiran mereka mungkin jika pepaya diolah akan mempunyai nilai jual yang tinggi. Kemudian menurut informasi yang mereka baca banyak kandungan vitamin yang dibutuhkan tubuh dalam kandungan pepaya. Untuk itu pembuatan kripik dari pepaya mungkin merupakan salah satu ide yang dapat membantu para petani pepaya dilingkungan mereka agar perekonomian meningkat.

Tak kalah menarik juga, ide dari kelompok tiga. “Menurut kami buah naga mempunyai kulit yang tebal dengan isi yang cukup sedikit. Sayang sekali jika kulit buah naga yang tebal dibuang begitu saja, kalau ada cara mengolah dengan benar kulit dari buah naga mungkin dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan tubuh, karena diketahui juga kandungan kulit buah naga mengandung antosianin, karbohidrat, dan lain sebagainya yang ternyata berguna untuk tubuh untuk itu kami membuat puding dengan kulit buah naga,”  jelas Daif selaku ketua kelompok III.

Pada semester ini, peserta didik mendapat apresiasi dari guru pembina riset. “Untuk semester awal, pemikiran seperti itu sudah menunjukan rasa ingin tau dan mencoba yang bagus bagi peserta didik kelas VII, saya sudah cukup bangga dengan pemikiran kritis mereka yang dapat berpikir kritis dengan lingkungan sekitar,” jelas Ismi selaku pembina riset sains. (sn/swp/ak)