Kontekstualisasi Ujian Remidi Untuk Ketuntasan Pembelajaran

REMIDI atau remedial, kata yang sangat familier di kalangan peserta didik, terutama yang berkaitan dengan mata pelajaran eksak. Mereka mengatakan sudah umum, sehinga ada slogan “Habis ulangan, terbitlah remidi”.

Dulu banyak guru di Indonesia beranggapan remidi adalah perbaikan nilai. Remidi dilakukan ketika nilai ulangan peserta didik tidak mencapai KKM. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk memperbaiki nilai. Namun, pada umumya yang dilakukan adalah mengerjakan soal remidi. Apakah mengerjakan soal yang sama ataukah mengerjakan soal yang berbeda. Singkatnya, remidi merupakan formalitas untuk memperbaiki nilai peserta didik yang di bawah KKM, bukan untuk membantu siswa mengatasi masalah belajar yang dihadapi siswa.

Peserta didik yang belum mencapai ketuntasan belajar seharusnya diberi kesempatan perbaikan (Remedial Teaching) dan peserta didik tidak diperkenankan melanjutkan pembelajaran kompetensi selanjutnya sebelum kompetensi tersebut tuntas. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan Skinner dalam Mukhtar dan Rusmini yang menyatakan bahwa secara ideal, peserta didik baru boleh mengikuti materi pelajaran berikutnya apabila ia benar-benar telah menguasai isi pelajaran yang telah dipelajarinya.

Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dijadikan acuan oleh pendidik untuk mengetahui kompetensi yang sudah dan belum dikuasai peserta didik. Melalui cara tersebut, pendidik dapat sedini mungkin mengetahui kesulitan yang dialami peserta didik sehingga pencapaian kompetensi yang kurang optimal bisa diperbaiki.

Remedi dapat dijadikan proses recovery atau proses pemulihan. Tujuan pendidikmelaksanakan pembelajaran remedialadalah membantu peserta didik yang mengalami kesulitan penguasaan/pencapaian kompetensi yang telah ditentukan agar mencapai hasil belajar yang lebih baik. Di sini pendidik membantu peserta didik memahami kesulitan belajar yang dialami secara mandiri. Membantu mengatasi kesulitan dengan memperbaiki sendiri cara belajar dan sikap belajarnya yang dapat mendorong pencapain kompetensi yang optimal.

Agar remedi menjadi proses recovery, pendidik sebaiknya melakukan langkah-langkah berikut.

1. Analis hasil diagnosis

Setelah ditemukan peserta didik yang belum mencapai ketuntasan,selanjutnya pendidik mencari materi apa yang belum dikuasainya.Dalam hal ini pendidik harus melihat kesulitan individu.Karena tidak menutup kemungkinan masalah yang dihadapi peserta didik tidak sama.

2. Menemukan penyebab kesulitan

Pada tahap ini, pendidik mengetahui penyebab kesulitan belajarnya.Pendidik mengidentifikasi faktor penyebab kesulitan masing-masing individu. Karena bisa juga gejala yang Nampak sama tetapi penyebab berbeda.

3. Menyusun rencana kegiatan remedial

Setelah ditemukan siswa yang bermasalah beserta penyebabnya,selanjutnya pendidik menyusun rencana kegiatan remedial.

4. Menilai kegiatan remedial

Penilaian dilakukan untuk mengetahui keberhasilan remedial.Apabila peserta didik mengalami kemajuan sesuai yang diharapkan, berarti remedial yang dilaksanakan cukup efektif membantu peserta didik mengatasi kesulitan belajar. Namun, jika peserta didik tidak menunjukkan kemajuan, berarti remedial tidak efektif dan pendidik harus menganalisis setiap komponen pembelajaran.

Ada beberapa teknik sebagai pilihan untuk remedial, yaitu pemberian tugas baik individu maupun kelompok, aktivitas fisik yang dapat membuat konsep abstrak menjadi lebih konkrit, tutorial sebaya atau menggunakan sumber lain atau orang yang lebih kompetenen di bidangnya. 

Sasaran pokok yang ingin dicapai dalam pembelajaran remedial adalah peserta didik bebas dari hambatan belajar kemudian siap melakukan kegiatan belajar yang baru untuk mencapai kompetensi yang telah ditetapkan. Dalam praktiknya, mungkin dalam batas-batas tertentu guru mata pelajaran masih bisa mengatasi sendiri. Ada kalanya pada kasus-kasus tertentu pendidik perlu bekerja sama dengan pihak lain seperti wali kelas, BK, Psikolog, dokter dan sebagainya.

Pembelajaran remedial dilaksanakan bagi peserta didik yang belum mencapai ketuntasan belajar sebagai proses recovery dengan melalui beberapa tahapan dengan beberapa pilihan stategi yang tepat. Pada kasus-kasus tertentu untuk melaksanakan remedial, guru mata pelajaran perlu bekerja sama dengan wali kelas, BK, Psikolog, dokter atau yang lainnya yang diperlukan.

 

Oleh:

Dra. Sarwosih,S.Pd. / Guru Bahasa IndonesiaMAN 1 Banjarnegara