Banjarnegara (Humas) – Kantor Urusan Agama (KUA) Purwanegara kembali mencatat momen istimewa ketika dua insan dari latar belakang budaya berbeda menjalani proses bimbingan dan nasihat perkawinan sebelum melangkah menuju akad nikah. Pasangan calon pengantin tersebut adalah Nur Solehah, warga Desa Pucung Bedug, Indonesia, dan Ahmed Abdel Muhamad, warga negara Mesir. Kisah pertemuan mereka yang bermula dari sebuah kursus online melalui internet menjadi bukti bahwa jodoh dapat datang dengan cara yang tak terduga. (11/12/2025)
Perjalanan cinta Nur Solehah dan Ahmed dimulai saat keduanya sama-sama mengikuti kursus daring internasional. Interaksi yang awalnya sebatas diskusi pembelajaran perlahan berkembang menjadi komunikasi yang lebih intens. Perbedaan bahasa dan budaya tidak menjadi penghalang, bahkan justru menjadi daya tarik yang memperkaya hubungan keduanya. Setelah melewati proses panjang saling mengenal dan memahami, mereka akhirnya memutuskan melangkah menuju ikatan pernikahan.
Sebelum akad dilaksanakan, pasangan lintas negara ini mengikuti nasihat perkawinan yang disampaikan oleh Imam Sarifudin, Penyuluh Agama Islam Fungsional KUA Purwanegara. Kegiatan tersebut menjadi tahapan penting untuk memberikan pemahaman mendalam tentang kehidupan rumah tangga, terlebih bagi pasangan beda negara yang memiliki tantangan lebih kompleks.
Dalam penyampaiannya, Imam Sarifudin menekankan bahwa komunikasi adalah kunci utama keharmonisan rumah tangga. Ia mengingatkan bahwa perbedaan kebiasaan, kultur, dan nilai dalam sebuah pernikahan lintas budaya harus disikapi dengan sikap saling menghormati dan rasa ingin memahami satu sama lain.
“Dalam pernikahan lintas negara, tantangannya bukan hanya bahasa, tetapi juga budaya dan cara pandang. Namun ketika dua hati sudah saling menerima, perbedaan bukan hambatan, melainkan kekuatan,” ujar Imam Sarifudin dalam nasihatnya.
Nur Solehah dan Ahmed mengikuti nasihat perkawinan dengan penuh perhatian. Terlihat jelas bahwa keduanya berusaha memahami setiap poin yang disampaikan. Kehadiran nasihat perkawinan ini dianggap sangat membantu mereka, terutama dalam mempersiapkan diri menghadapi perbedaan budaya yang kelak akan mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Nur Solehah mengungkapkan rasa syukurnya. Ia merasa mendapat bekal yang kuat untuk memasuki bahtera rumah tangga bersama Ahmed. Sementara Ahmed, meski bukan penutur asli bahasa Indonesia, mengikuti bimbingan dengan baik melalui bantuan penjelasan tambahan agar pesan yang disampaikan dapat dipahami secara utuh.
Dengan selesainya rangkaian bimbingan dan nasihat perkawinan tersebut, pasangan Nur Solehah dan Ahmed kini siap melangkah menuju akad nikah dengan penuh keyakinan dan harapan. Semoga rumah tangga yang akan mereka bangun menjadi keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah, serta mampu menjembatani perbedaan budaya menjadi kekuatan dalam kehidupan mereka.
(HS/ azd)







