Madtsansa Ikuti Gelar Karya dan Workshop Gerakan Seniman Masuk Sekolah 2025 di Alun-Alun Banjarnegara

Banjarnegara (Humas) – MTs Negeri 1 Banjarnegara  turut ambil bagian dalam kegiatan Gelar Karya dan Workshop Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara, Selasa malam (28/10) pukul 19.00 WIB di Alun-alun Banjarnegara.

Kegiatan yang melibatkan berbagai satuan pendidikan di Banjarnegara ini menampilkan pertunjukan seni ensambel oleh siswa SMP Negeri 1 Banjarnegara serta pemutaran empat karya film pelajar Banjarnegara, yaitu film dokumenter “Kuntulan Semangkung” produksi MAN 1 Banjarnegara, film dokumenter “GSMS” produksi SMPN 1 Banjarnegara, film fiksi “Tembelek” karya siswa SMKN 2 Bawang, dan film fiksi “Ruwing” garapan siswa SMPN 2 Banjarnegara.

MTs Negeri 1 Banjarnegara sendiri mengirimkan sepuluh siswa yang didampingi oleh Fitriyanto, pegawai Tata Usaha Madtsansa sekaligus pembina ekstrakurikuler fotografi dan Sinematografi serta Surya Widhi Prakosa, guru Bahasa Indonesia. Mereka hadir untuk mengikuti sekaligus menyimak karya kreatif pelajar Banjarnegara yang ditampilkan dalam ajang tahunan tersebut.

Menurut Ikhsanudin, Wakil Kepala Madrasah bidang Kesiswaan MTs Negeri 1 Banjarnegara, keikutsertaan Madtsansa dalam kegiatan GSMS menjadi wujud nyata dukungan madrasah terhadap penguatan karakter dan kreativitas peserta didik.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan yang diinisiasi oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan ini. Melalui kegiatan seperti ini, siswa tidak hanya belajar menonton dan menikmati karya seni, tetapi juga belajar menghargai proses kreatif teman-temannya. Ini sejalan dengan semangat pendidikan karakter di madrasah,” ujar Ikhsanudin.

Ia menambahkan, kegiatan seni dan perfilman dapat menjadi wadah bagi siswa untuk menumbuhkan kepekaan sosial dan kemampuan berekspresi yang positif.

Sementara itu, Fitriyanto, pendamping siswa dari MTs Negeri 1 Banjarnegara, menyampaikan bahwa partisipasi dalam kegiatan GSMS memberi pengalaman belajar di luar kelas yang sangat berharga bagi para siswa.

“Anak-anak sangat antusias. Mereka bisa belajar bagaimana karya seni dan film dibuat, juga bagaimana sebuah pertunjukan dipersiapkan. Ini bukan sekadar hiburan, tapi juga pembelajaran yang kontekstual,” ujarnya.

Hal senada disampaikan oleh Surya Widhi Prakosa, guru bahasa Indonesia Madtsansa. Ia menilai bahwa kegiatan Gelar Karya dan Workshop GSMS merupakan wadah penting untuk memperkenalkan dunia seni dan perfilman kepada pelajar Banjarnegara.

“Melihat karya pelajar lain membuat siswa Madtsansa semakin termotivasi untuk berkreasi. Tahun depan, kami berharap bisa turut serta menampilkan karya seni siswa kami sendiri,” ungkap Surya.

Dua perwakilan siswa Madtsansa, Alya Dwi Cantika dan Muhammad Abiza Al Mahzumy, turut membagikan kesan mereka setelah mengikuti kegiatan tersebut.

Alya mengaku terinspirasi oleh film dokumenter yang menceritakan kesenian tradisional Banjarnegara.

“Film Kuntulan Semangkung sangat menarik. Kami jadi tahu bahwa kesenian tradisional juga bisa dikemas menjadi tontonan yang bagus dan edukatif,” ungkapnya dengan semangat.

Sementara itu, Abiza mengungkapkan kekagumannya terhadap film fiksi pelajar Banjarnegara yang menampilkan ide-ide segar dan kreatif.

“Film Ruwing punya cerita yang keren dan relate dengan kehidupan remaja. Saya jadi pengin belajar bikin film juga,” ujarnya.

Keduanya berharap Madtsansa dapat berpartisipasi aktif dalam pembuatan karya seni dan film di masa mendatang.

Kegiatan yang berlangsung di bawah gemerlap lampu Alun-alun Banjarnegara tersebut dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk guru seni, pelajar, dan masyarakat umum. Gelar karya dan workshop GSMS menjadi ajang untuk mempertemukan para seniman lokal dengan dunia pendidikan, sekaligus menjadi bentuk nyata sinergi antara pemerintah daerah dan lembaga pendidikan.

Melalui kegiatan ini, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara berharap generasi muda semakin mengenal dan mencintai kesenian daerah serta memiliki keberanian untuk mengekspresikan diri melalui karya seni dan perfilman.

Ikhsanudin menutup pernyataannya dengan harapan agar Madtsansa terus menjadi bagian aktif dalam pengembangan potensi siswa di bidang seni.

“Madtsansa berkomitmen untuk mendukung kegiatan literasi dan seni di berbagai level. Seni adalah media pendidikan yang membangun rasa, karsa, dan cipta siswa. Kami akan terus dorong siswa untuk berani berkarya,” tegasnya.

Dengan semangat tersebut, keikutsertaan MTs Negeri 1 Banjarnegara dalam Gelar Karya dan Workshop Gerakan Seniman Masuk Sekolah 2025 bukan hanya sekadar partisipasi, tetapi juga langkah nyata dalam menumbuhkan generasi muda Banjarnegara yang kreatif, berbudaya, dan berkarakter. (Lin/La)

Skip to content