Banjarnegara (Humas) – Di tengah udara dingin dan kabut tebal yang menyelimuti wilayah pegunungan Pandanarum. Sosok Turno selaku Penyuluh Agama Islam Pandanarum, tetap melangkah pasti menuju lokasi tugasnya. Jumat sore, (07/11) pukul 15.30 WIB ia melaksanakan bimbingan dan penyuluhan agama Islam di Majelis Taklim Berkah Ilahi, yang berlokasi di Desa Sinduaji.
Kegiatan berlangsung di mushola setempat dengan suasana sederhana namun penuh makna. Meski kabut turun dan gerimis mulai membasahi bumi, semangat dakwah Turno tak surut sedikit pun. Ia hadir untuk menyampaikan materi bertajuk “Syahadat Sebagai Pondasi Iman Seorang Muslim.”
Dalam materinya, Turno menguraikan dengan penuh keteduhan bahwa dua kalimat syahadat adalah kunci utama keislaman seseorang, sekaligus fondasi yang menguatkan setiap amal ibadah. “Syahadat bukan hanya ucapan formal ketika seseorang masuk Islam, melainkan komitmen seumur hidup untuk menjadikan Allah satu-satunya sesembahan dan Nabi Muhammad sebagai teladan sejati,” ujarnya.
Turno juga menekankan pentingnya menanamkan makna syahadat dalam kehidupan sehari-hari, terutama di tengah derasnya arus globalisasi dan perubahan sosial. “Banyak orang hafal kalimatnya, tapi belum tentu memahami maknanya. Maka tugas kita sebagai umat beriman adalah menjaga isi dan ruh dari syahadat itu sendiri,” lanjutnya dalam penyampaian yang disimak dengan khusyuk oleh para jamaah.
Meskipun jumlah jamaah sedikit berkurang karena cuaca tidak mendukung, penyuluhan tetap berjalan dengan khidmat dan penuh kehangatan. Para peserta yang hadir tampak antusias, beberapa di antaranya mengajukan pertanyaan seputar keimanan dan praktik ibadah dalam kehidupan sehari-hari.
Turno mengakui bahwa musim hujan menjadi salah satu tantangan dalam pelaksanaan tugas penyuluhan. Akses jalan menuju Desa Sinduaji yang menanjak dan licin akibat hujan membuat perjalanan membutuhkan usaha ekstra. Namun, semua itu tidak menjadi penghalang bagi dirinya untuk terus menunaikan amanah dakwah.
“Musim boleh berganti, kabut boleh menutupi pandangan, tetapi cahaya dakwah tidak boleh padam. Justru di tengah tantangan seperti inilah keikhlasan seorang penyuluh diuji,” tutur Turno dengan penuh semangat.
Kegiatan sore itu ditutup dengan doa bersama agar para jamaah senantiasa diberikan keteguhan iman dan semangat untuk terus memakmurkan majelis taklim, sekaligus menjadi bagian dari perjuangan menjaga akidah umat.
Dedikasi Turno dalam menembus kabut demi menyampaikan pesan iman menjadi cerminan nyata bahwa penyuluh agama bukan hanya pengajar, tetapi juga pejuang di garis depan pembinaan umat. Dengan ketulusan dan kesungguhan, ia membuktikan bahwa dakwah sejati tak mengenal batas medan, waktu, maupun cuaca.
(ev/ azd)







