Banjarnegara (Humas) – Tugas sebagai Penyuluh Agama Islam bukan hanya tentang menyampaikan materi, tetapi juga tentang keikhlasan dan keteguhan hati dalam melayani umat. Semangat inilah yang tercermin dari sosok Suprihatin sebagai Penyuluh Agama Islam Kecamatan Pandanarum yang pada Jumat (07/11) berhasil melaksanakan dua kegiatan penyuluhan di dua lokasi berbeda dalam satu hari.
Kegiatan pertama dilaksanakan di Madrasah Takmiliyah Darul Ulum Penanggungan pada pukul 13.00 WIB, dan dilanjutkan dengan penyuluhan di Madrasah Takmiliyah Al-Qoyyum Passegeran pada pukul 15.30 WIB. Jarak antara kedua lokasi ini tidaklah berdekatan, bahkan medan yang harus dilalui cukup berat dengan jalan menanjak dan berkelok khas wilayah pegunungan Pandanarum. Namun, Suprihatin tetap melangkah dengan semangat, menembus medan demi menunaikan amanah penyuluhan kepada masyarakat.
Dalam penyuluhan kali ini, ia membawakan materi berjudul “Berbalas Istana di Syurga: Kisah Seorang Istri yang Taat dan Patuh kepada Suami.” Materi tersebut menggugah hati para peserta untuk meneladani kisah wanita salehah yang mengutamakan ridha suami sebagai jalan menuju ridha Allah Swt. Suprihatin menekankan bahwa rumah tangga yang sakinah tidak lahir dari kesempurnaan, tetapi dari kesabaran, saling menghargai, dan ketaatan kepada ajaran agama.
“Setiap istri yang berbakti kepada suaminya dengan ikhlas, menjaga kehormatan diri dan keluarganya, insyaallah dijanjikan istana di surga. Ketaatan bukan tanda kelemahan, melainkan bukti kekuatan iman dan cinta karena Allah,” ujar Suprihatin dalam salah satu sesi penyuluhan.
Antusiasme peserta terlihat jelas, baik di MT Darul Ulum maupun MT Al-Qoyyum. Para jamaah, yang sebagian besar merupakan ibu-ibu dan remaja putri, mendengarkan dengan penuh perhatian. Seusai penyuluhan, beberapa peserta bahkan menyampaikan rasa syukurnya karena bisa mendapatkan bimbingan langsung yang menyentuh sisi keimanan dan kehidupan rumah tangga mereka.
Kepala KUA Pandanarum turut mengapresiasi semangat Suprihatin yang tidak hanya menunjukkan profesionalitas, tetapi juga dedikasi dalam mengemban amanah sebagai penyuluh agama. “Perjuangan seperti ini patut dicontoh. Semangat beliau menunjukkan bahwa dakwah tidak mengenal batas tempat dan waktu,” ungkapnya.
Melalui kegigihannya menempuh dua lokasi berbeda dalam satu hari, Suprihatin menjadi teladan nyata bagi penyuluh lainnya. Ia membuktikan bahwa semangat dakwah yang lahir dari keikhlasan mampu menembus jarak, waktu, dan tantangan medan.
(ev/ azd)







