Banjarnegara (Humas) – Di tengah pusaran kesibukan modern, meluangkan waktu berkualitas untuk anak sering kali menjadi tantangan besar bagi para orang tua. Menjawab persoalan tersebut, sebuah penyuluhan keagamaan Education Parenting digelar dengan tajuk “Menjemput Berkah dalam Setitik Waktu: Seni Membersamai Anak di Sela Kesibukan”. Acara yang sarat emosi dan ilmu ini berlangsung khidmat di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Banjarnegara. (2/9/2026)
Hadir sebagai pembicara utama, Arif Hidayat, seorang Penyuluh Agama Islam dari Kecamatan Bawang. Dalam pemaparannya, beliau menekankan bahwa esensi dari mengasuh anak bukanlah seberapa lama orang tua berada di rumah, melainkan seberapa berkualitas dan “hadirnya jiwa” orang tua saat bersama anak.
“Banyak orang tua yang merasa sudah menemani anak, padahal fisiknya saja yang ada di sana, sementara pikirannya ada di pekerjaan atau gawai masing-masing. Anak tidak hanya butuh kehadiran fisik, tapi mereka butuh kedekatan ruhani,” ujar Arif di hadapan ratusan jamaah dan orang tua yang hadir.
Arif juga membagikan tips praktis atau seni dalam memanfaatkan waktu yang sempit namun tetap berkesan dan bernilai ibadah (berkah). Menurutnya, menyapa anak dengan pelukan hangat di pagi hari, mendengarkan cerita mereka selama 10 menit tanpa interupsi gadget, hingga menyelipkan doa di telinga anak menjelang tidur adalah investasi akhirat yang luar biasa.
“Setitik waktu yang kita berikan dengan ikhlas dan penuh kasih sayang akan menjadi memori indah yang membekas sepanjang hidup anak, sekaligus menjadi ladang pahala bagi kita,” tambahnya.
Antusiasme peserta terlihat sangat tinggi sepanjang acara. Banyak dari orang tua, baik ayah maupun ibu, yang terenyuh saat sesi renungan bersama. Acara interaktif ini juga membuka sesi tanya jawab, di mana para peserta berkonsultasi langsung mengenai dilema membagi waktu antara tuntutan pekerjaan dan kewajiban mendidik anak secara Islami.
Penyuluhan parenting ini diharapkan dapat menjadi momentum bagi para orang tua di Banjarnegara untuk mengevaluasi kembali pola asuh mereka, serta mulai mempraktikkan seni “hadir utuh” demi mencetak generasi yang saleh, salehah, dan matang secara psikologis.
(Arh/azd)
