Banjarnegara (Humas) – Suasana khidmat menyelimuti Majelis Taklim Muslimat Desa Sokayasa pada hari Selasa (28/4). Jamaah tampak terpaku menyimak penjelasan mendalam dari Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Banjarnegara, Ani Musyarofah, mengenai rahasia meraih ketenangan batin. Fokus kajian kali ini membedah penggalan akhir Surat Al-Fajr, yakni ayat 27 hingga 30, yang berbicara tentang panggilan sayang Allah kepada jiwa yang tenang (Nafsul Mutmainnah).
“Ketenangan jiwa tidak lahir dari melimpahnya materi, melainkan dari sejauh mana seorang hamba mampu merasa rida atas ketetapan Allah. Jiwa yang tenang adalah jiwa yang telah selesai dengan urusan duniawinya dalam artian ia menerima takdir dengan lapang dada. Inilah kunci agar kita dipanggil dengan mesra oleh Sang Pencipta,” ujar penyuluh di hadapan jamaah.
Kajian ini mengupas tuntas ayat demi ayat. “Kata irji’i (kembalilah) dalam ayat ke-28 adalah undangan pulang yang paling indah. Namun, undangan ini hanya dialamatkan kepada mereka yang memiliki jiwa yang mutmainnah, jiwa yang stabil, tidak mudah goyah oleh ujian, dan senantiasa berzikir,” jelasnya.
Penyuluh juga membagikan tiga tips praktis bagi jamaah untuk melatih ketenangan jiwa di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern:
- Memperkuat Dzikir: Menjadikan mengingat Allah sebagai kebutuhan, bukan sekadar kewajiban.
- Latihan Rida: Belajar menerima hasil akhir setelah ikhtiar maksimal.
- Berkumpul dengan Orang Saleh: Menjaga lingkungan pergaulan agar spiritualitas tetap terjaga.
Kegiatan yang berlangsung selama satu jam ini diakhiri dengan sesi tanya jawab yang interaktif. Banyak jamaah yang mengaku merasa “ter-charge” kembali semangat spiritualnya. Salah satu jamaah menuturkan bahwa penjelasan mengenai hubungan antara rida dan ketenangan hati sangat relevan dengan beban hidup yang dialami sehari-hari.
KUA Banjarnegara berharap melalui kajian rutin seperti ini, peran Penyuluh Agama tidak hanya sebagai pemberi informasi formal, tetapi juga sebagai pendamping spiritual yang mampu merangkul masyarakat menuju kehidupan yang lebih bermakna dan religius. Acara pun ditutup dengan doa bersama, memohon agar setiap yang hadir kelak dikumpulkan dalam barisan hamba-hamba-Nya yang masuk ke dalam surga dengan jiwa yang tenang.







