MTs Negeri 1 Banjarnegara Laksanakan Supervisi Pembelajaran PJOK

Banjarnegara (Humas) – Dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran dan profesionalitas guru, MTs Negeri 1 Banjarnegara melaksanakan kegiatan supervisi pembelajaran pada Rabu (10/9). Kegiatan ini dilaksanakan oleh Yuniyati, salah satu tim penilai pengembang keprofesian berkelanjutan (PKB) madrasah, kepada guru PJOK, Dody Herdiyanto. Supervisi berlangsung di lapangan indoor MTs Negeri 1 Banjarnegara dengan suasana penuh keakraban namun tetap profesional.

Kepala MTs Negeri 1 Banjarnegara, H. Yatiman, dalam keterangannya menegaskan bahwa supervisi pembelajaran merupakan salah satu agenda penting yang tidak hanya sekadar menilai kinerja guru, tetapi juga sebagai upaya memberikan pendampingan agar guru semakin berkembang.

“Supervisi bukan semata-mata menilai guru di depan kelas atau lapangan, tetapi lebih pada upaya peningkatan kualitas pembelajaran. Kami ingin semua guru di MTs Negeri 1 Banjarnegara memiliki kompetensi yang semakin matang, baik dalam perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasi pembelajaran. Dengan begitu, layanan pendidikan yang diterima siswa benar-benar berkualitas,” ujar H. Yatiman.

Lebih lanjut, beliau menyampaikan bahwa supervisi juga menjadi bagian dari komitmen madrasah dalam mendukung program Kementerian Agama untuk mewujudkan guru yang profesional.

“Madrasah harus menjadi rumah pembelajaran. Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga pembelajar sepanjang hayat. Supervisi seperti ini menjadi ruang dialog dan refleksi bersama agar guru merasa didampingi, bukan dihakimi,” tambahnya.

Sementara itu, Yuniyati selaku tim penilai PKB sekaligus Wakil Kepala Madrasah bidang kurikulum, menyampaikan bahwa supervisi pembelajaran dilakukan secara sistematis dengan mengacu pada instrumen yang telah ditetapkan. Ia menegaskan bahwa supervisi bukanlah ajang mencari kelemahan, melainkan sarana untuk membangun kekuatan guru dalam mengelola pembelajaran.

“Supervisi ini dilakukan dalam tiga tahap, yaitu pra-observasi, observasi, dan pasca-observasi. Pada pra-observasi kami berdiskusi dengan guru terkait perangkat pembelajaran yang sudah disusun. Kemudian saat observasi, kami melihat bagaimana guru mengimplementasikan rencana pembelajaran di lapangan. Terakhir, pada tahap pasca-observasi, kami memberikan umpan balik serta masukan untuk perbaikan ke depan,” jelas Yuniyati.

Ia juga mengapresiasi semangat dan keterbukaan yang ditunjukkan oleh guru PJOK, Dody Herdiyanto, dalam menerima masukan. Menurutnya, sikap terbuka menjadi modal penting bagi guru untuk terus berkembang.

“Pak Dody menunjukkan kesungguhan dalam menyiapkan pembelajaran PJOK. Beliau juga mampu mengkondisikan siswa dengan baik, memadukan pendekatan permainan, dan memberi kesempatan siswa aktif. Tentu ada beberapa catatan kecil, misalnya dalam manajemen waktu agar semua indikator bisa tercapai, namun itu hal wajar yang bisa diperbaiki,” ungkap Yuniyati.

Di sisi lain, Dody Herdiyanto merasa mendapat banyak manfaat dari kegiatan supervisi ini. Baginya, supervisi bukan beban, melainkan sarana untuk bercermin sekaligus memperkaya wawasan pedagogis.

“Saya merasa kegiatan ini sangat membantu. Supervisi membuat saya lebih sadar bahwa dalam mengajar, selalu ada ruang untuk perbaikan. Dari masukan Bu Yuniyati, saya jadi lebih memahami bagaimana mengelola alokasi waktu agar semua rencana bisa terlaksana. Selain itu, saya juga mendapat dorongan untuk lebih kreatif dalam memberikan variasi aktivitas agar siswa semakin bersemangat,” ujar Dody.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya supervisi sebagai bentuk perhatian madrasah terhadap pengembangan profesi guru.

“Kalau tidak ada supervisi, mungkin kami merasa sudah cukup dengan apa yang dilakukan. Padahal, dunia pendidikan terus berkembang, metode dan pendekatan baru terus muncul. Dengan supervisi, kami bisa mendapatkan masukan langsung untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan itu,” tambahnya.

Pelaksanaan supervisi di lapangan indoor tersebut juga menjadi momen pembelajaran bagi siswa. Mereka melihat secara langsung bagaimana guru berusaha memberikan pembelajaran terbaik sambil mendapat evaluasi. Hal ini turut menumbuhkan kesadaran bahwa proses belajar tidak hanya terjadi pada siswa, melainkan juga pada guru.

Kepala madrasah, H. Yatiman, menutup dengan harapan bahwa kegiatan supervisi dapat berjalan berkesinambungan dan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan mutu pendidikan di MTs Negeri 1 Banjarnegara.

“Kami ingin setiap guru merasa ditemani dalam perjalanan profesionalnya. Supervisi ini adalah bagian dari budaya mutu yang terus kami bangun. Jika guru semakin berkualitas, maka siswa pun akan mendapatkan pendidikan terbaik,” pungkasnya.

Dengan terselenggaranya supervisi pembelajaran ini, MTs Negeri 1 Banjarnegara kembali menunjukkan komitmennya sebagai madrasah yang senantiasa mendorong inovasi, refleksi, dan peningkatan mutu. Supervisi bukan akhir dari penilaian, melainkan awal dari proses pembelajaran berkelanjutan bagi para pendidik. (Lin/La)

Skip to content