Navigasi Psikologi dan Spiritual: Strategi KUA Pagentan Tekan Angka Perceraian Lewat Bimwin

Banjarnegara (Humas) – Pernikahan bukan sekadar urusan administrasi di atas kertas, melainkan sebuah perjalanan panjang yang menuntut kesiapan mental dan spiritual yang matang. Menyadari hal tersebut, Kantor Urusan Agama (KUA) Pagentan menggelar program Bimbingan Perkawinan (Bimwin) bagi para calon pengantin dan pasangan muda pada Senin (27/4/2026) di Balai Nikah KUA Pagentan. Langkah ini diambil sebagai upaya preventif dalam memperkuat ketahanan keluarga di wilayah Banjarnegara.

Kegiatan yang berlangsung interaktif ini dipandu oleh duet pemateri ahli, yakni Nasta’in selaku Penghulu KUA Pagentan dan Rosidi sebagai Fasilitator Bimwin. Dengan mengusung tema besar “Membangun Keluarga Sakinah dan Psikologi Keluarga,” acara ini bertujuan membekali peserta dengan “alat navigasi” yang tepat dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

Dalam sesi pertama, Nasta’in menekankan bahwa pernikahan adalah bentuk ibadah terpanjang. Ia mengingatkan bahwa cinta saja tidak cukup untuk menjaga keutuhan rumah tangga dalam jangka panjang.

“Pondasi yang kokoh harus dibangun di atas nilai keimanan dan komitmen yang tak tergoyahkan. Tanpa komunikasi yang sehat dan kesabaran, bangunan rumah tangga akan mudah goyah saat diterpa badai permasalahan,” tegas Nasta’in di hadapan para peserta yang tampak menyimak dengan seksama.

Beralih ke aspek praktis, Rosidi membedah sisi psikologis dalam dinamika keluarga. Ia menggarisbawahi bahwa konflik adalah bumbu yang tak terelakkan dalam pernikahan. Namun, kualitas sebuah keluarga ditentukan oleh bagaimana cara pasangan tersebut menyelesaikan perselisihan. Aspek-aspek krusial seperti manajemen keuangan, pembagian peran domestik, hingga regulasi emosi menjadi poin utama dalam pemaparannya agar konflik tidak berujung pada keretakan permanen.

Manfaat nyata dirasakan langsung oleh para peserta. Ahmad Fauzi, salah satu calon pengantin, mengaku mendapatkan perspektif baru yang lebih realistis mengenai dunia pernikahan. Ia menyadari bahwa memahami perbedaan karakter pasangan merupakan kunci utama yang sebelumnya sering ia sepelekan.

“Kegiatan ini benar-benar membuka mata kami bahwa membangun rumah tangga tidak sesederhana yang dibayangkan. Kami belajar banyak tentang pentingnya komunikasi, tanggung jawab, hingga cara menghadapi perbedaan dengan pasangan agar pondasi keluarga tetap kuat,” ujar Ahmad Fauzi.

Senada dengan Ahmad Fauzi, Tatik Wida mengungkapkan rasa syukurnya atas materi manajemen konflik dan finansial yang diberikan. Menurutnya, edukasi seperti ini memberikan rasa percaya diri lebih bagi perempuan dalam menjalankan peran sebagai istri maupun ibu di masa depan.

Melalui inisiatif ini, KUA Pagentan berkomitmen untuk melahirkan keluarga-keluarga yang tidak hanya harmonis secara internal, tetapi juga mampu menjadi teladan sosial. Dengan kematangan mental, emosional, dan spiritual, diharapkan angka perselisihan rumah tangga di masyarakat dapat ditekan secara signifikan, menciptakan masyarakat yang lebih stabil yang dimulai dari unit terkecil, yaitu keluarga. 

(msa/azd)

Skip to content