Penyuluh Agama Islam Ajak Warga PMKS Pamardi Raharjo Wujudkan Hidup Bahagia dengan Rasa Syukur

Banjarnegara (Humas) – Penyuluh Agama Islam Kecamatan Bawang, Fitriana Ahmad, kembali melaksanakan tugas kepenyuluhan dengan penuh dedikasi. Kali ini kegiatan berlangsung di PMKS Pamardi Raharjo, sebuah lembaga sosial yang menaungi masyarakat dengan berbagai latar belakang kehidupan. Tema yang diangkat yaitu “Hidup Bahagia Penuh Rasa Syukur”, diikuti dengan penuh antusias oleh sekitar 50 peserta. (25/9)

“Banyak orang yang salah mengartikan bahagia. Mereka mengira bahagia hanya milik orang kaya atau yang serba cukup. Padahal kebahagiaan itu dekat sekali, yakni ketika hati kita mampu menerima, bersabar, dan bersyukur atas apa yang Allah titipkan,” jelas Fitriana Ahmad dengan penuh keteduhan.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa syukur tidak hanya diucapkan lewat lisan melainkan diwujudkan dalam sikap dan perbuatan sehari-hari. Salah satunya adalah dengan selalu berbuat kebaikan, menjaga hubungan baik dengan sesama, serta tidak mudah mengeluh ketika menghadapi kesulitan.

Kegiatan kepenyuluhan ini mendapat apresiasi dari Bu Rini, pengurus PMKS Pamardi Raharjo. Menurutnya, materi yang dibawakan sangat sesuai dengan kebutuhan para peserta.

“Kami merasa senang dengan hadirnya penyuluhan ini. Banyak dari warga binaan kami yang membutuhkan siraman rohani agar tetap tegar dan tidak mudah putus asa. Semoga kegiatan semacam ini bisa berlanjut secara rutin, karena manfaatnya terasa langsung bagi kami,” ungkap Bu Rini dengan penuh harap.

Tidak hanya pengurus, peserta pun merasakan dampak positif dari kegiatan ini. Salah satunya adalah Antika, yang mengaku mendapat pencerahan baru setelah mengikuti penyuluhan.

“Saya merasa lebih tenang setelah mengikuti penyuluhan ini. Ternyata kebahagiaan itu tidak harus menunggu kaya atau sukses, tapi bisa kita rasakan setiap hari dengan bersyukur. Saya jadi lebih semangat menjalani hidup,” ucap Antika dengan senyum tulus.

Selain materi inti, penyuluhan juga diselingi dengan sesi tanya jawab. Para peserta diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan seputar permasalahan hidup dan bagaimana menyikapinya dengan penuh syukur. Momen ini semakin mempererat interaksi antara penyuluh dengan peserta, sehingga kegiatan terasa lebih hidup dan bermakna.

Penyuluhan ini menjadi bukti nyata komitmen Penyuluh Agama Islam dalam mendampingi masyarakat. Kehadiran mereka di tengah-tengah masyarakat bukan hanya sekadar memberikan ilmu, tetapi juga menghadirkan semangat baru untuk menjalani hidup dengan penuh rasa syukur dan optimisme. (FA, azd)

Skip to content