Banjarnegara (Humas) – Tim Penyuluh Agama Islam dari Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Pagentan bergerak cepat merespons musibah bencana alam yang menimpa warga. Pada Kamis (22/1/2026), tiga orang penyuluh, yakni M. Syaiful Abidin, Sutrisno, dan Alfiana Nurhidayah, terjun langsung melakukan assessment terkait bencana tanah bergerak yang melanda Desa Karangnangka.
Kegiatan diawali dengan koordinasi di Kantor Desa Karangnangka guna menghimpun data awal. Berdasarkan laporan, titik pergerakan tanah terpusat di wilayah RW 01, mencakup tiga wilayah rukun tetangga yaitu RT 05, RT 06, dan RT 07. Kondisi geografis yang labil memicu kerusakan struktur bangunan secara masif di area tersebut.
Data terkini menunjukkan sedikitnya 35 rumah warga terdampak oleh fenomena geologi ini. Dari jumlah tersebut, 10 rumah mengalami kerusakan cukup serius seperti dinding retak lebar hingga fondasi yang amblas, sehingga kondisinya dianggap membahayakan jika terus dihuni. Akibatnya, sejumlah warga terpaksa diungsikan ke tempat yang lebih aman guna menghindari risiko bangunan roboh sewaktu-waktu.
M. Syaiful Abidin, salah satu penyuluh yang memimpin tinjauan lapangan, menyatakan bahwa kehadiran mereka bertujuan untuk memberikan dukungan moril sekaligus memetakan kebutuhan spiritual dan logistik warga.
“Kami hadir untuk memastikan kondisi saudara-saudara kita di Karangnangka. Selain mendata kerusakan fisik, fokus kami adalah memberikan penguatan mental bagi para korban. Bencana ini adalah ujian berat, dan peran kami sebagai penyuluh adalah mendampingi warga agar tetap sabar serta membantu mengomunikasikan kebutuhan mendesak mereka kepada pihak terkait,” ujar M. Syaiful Abidin.
Ironisnya, musibah ini tidak pandang bulu. Suratman, selaku Kepala Desa Karangnangka, ternyata juga menjadi salah satu korban terdampak. Rumah pribadinya turut mengalami kerusakan akibat pergerakan tanah tersebut. Meski rumahnya ikut rusak, ia tetap sigap memimpin koordinasi penanganan warganya.
“Kondisi saat ini memang cukup memprihatinkan. Pergerakan tanah di RT 5 sampai 7 RW 1 ini sangat dinamis, terutama saat hujan turun. Saya pribadi merasakan langsung dampak ini karena rumah saya juga terkena. Prioritas utama kami sekarang adalah keselamatan warga; mereka yang rumahnya rusak berat sudah kami minta untuk mengungsi ke kerabat atau titik aman yang sudah disediakan,” ungkap Suratman.
Setelah dari kantor desa, tim penyuluh melanjutkan peninjauan langsung ke lokasi bencana di tiga RT tersebut untuk berdialog dengan warga yang masih bertahan maupun yang tengah berkemas untuk mengungsi. Langkah assessment ini diharapkan dapat mempercepat penyaluran bantuan dan pendampingan psikososial bagi masyarakat Desa Karangnangka.
(msa/azd)
