Penyuluh KUA Mandiraja Ajak Jemaah MT Miftahul Jannah Memahami Tingkatan Rezeki dan Pentingnya Bersyukur

Banjarnegara (Humas) – Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Mandiraja, Dian Setiadi, melaksanakan penyuluhan keagamaan di Majelis Taklim (MT) Miftahul Jannah, Dusun Wanabadra, Desa Kebanaran, Kecamatan Mandiraja, pada Selasa (20/10/2026). Kegiatan yang dipimpin oleh Hj. Sururi Munah tersebut membahas materi tentang tingkatan rezeki dalam perspektif Islam, dengan tujuan meningkatkan pemahaman jemaah mengenai makna rezeki, menumbuhkan rasa syukur, serta mendorong penerapan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam penyuluhan tersebut, Dian Setiadi menjelaskan bahwa rezeki tidak semata-mata berbentuk uang atau harta benda. Rezeki juga dapat berupa kesehatan, kesempatan beribadah, keluarga yang harmonis, ilmu yang bermanfaat, lingkungan yang baik, serta ketenangan hati. Pemahaman ini penting agar masyarakat tidak hanya mengukur keberhasilan hidup berdasarkan banyaknya harta, tetapi juga melihat berbagai nikmat yang telah Allah Swt., berikan.

Materi penyuluhan mengangkat empat tingkatan rezeki sebagai bahan refleksi bersama, yaitu rezeki yang menjamin keberlangsungan hidup, rezeki yang diperoleh melalui usaha, rezeki berupa keberkahan, serta rezeki yang menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah Swt. Penjelasan tersebut diarahkan untuk membantu jemaah memahami bahwa setiap nikmat perlu disikapi dengan rasa syukur, tanggung jawab, dan penggunaan yang baik.

Dian Setiadi menyampaikan bahwa usaha dan doa merupakan bagian penting dalam ikhtiar memperoleh rezeki. Menurutnya, seorang muslim perlu bekerja dengan cara yang halal, menjaga kejujuran, serta tidak mengabaikan kewajiban agama demi mengejar kepentingan duniawi.

“Rezeki bukan hanya tentang seberapa banyak harta yang kita miliki, tetapi juga tentang bagaimana kita mensyukuri dan memanfaatkan nikmat yang diberikan Allah. Kesehatan, keluarga, kesempatan beribadah, dan ketenangan hati juga merupakan rezeki yang patut kita jaga,” ujar Dian Setiadi dalam penyampaian materinya.

Ia juga mengajak jemaah untuk tidak mudah membandingkan keadaan ekonomi diri sendiri dengan orang lain. Setiap orang memiliki keadaan, kesempatan, dan tanggung jawab yang berbeda. Oleh karena itu, sikap bersyukur perlu berjalan beriringan dengan ikhtiar, kesabaran, dan keyakinan bahwa setiap usaha yang dilakukan melalui jalan yang benar memiliki nilai kebaikan.

Pimpinan MT Miftahul Jannah, Hj. Sururi Munah, dalam petikan tanggapan yang dirumuskan untuk naskah ini, menyampaikan bahwa materi tentang tingkatan rezeki dapat menjadi pengingat bagi jemaah untuk lebih menghargai nikmat yang dimiliki.

“Melalui penyuluhan ini, kami berharap jemaah semakin memahami bahwa rezeki tidak hanya berupa materi. Semoga ilmu yang disampaikan dapat menjadi pengingat untuk selalu bersyukur, menjaga kebersamaan, dan membiasakan diri melakukan kebaikan dalam kehidupan keluarga maupun bermasyarakat,” ungkap Hj. Sururi Munah.

Lebih lanjut, pemahaman mengenai rezeki juga berkaitan dengan tanggung jawab dalam mengelola harta. Rezeki yang diperoleh hendaknya digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, membantu sesama, serta mendukung kegiatan ibadah dan kemaslahatan masyarakat. Dengan demikian, rasa syukur tidak berhenti pada ucapan, tetapi diwujudkan melalui perilaku nyata, seperti bersedekah sesuai kemampuan, menjaga amanah, bekerja secara jujur, dan menghindari perilaku boros.

Kegiatan penyuluhan di MT Miftahul Jannah ini menjadi bagian dari peran Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Mandiraja dalam memberikan bimbingan keagamaan kepada masyarakat. Melalui kegiatan majelis taklim, penyuluh diharapkan dapat membantu jemaah memperdalam pemahaman agama sekaligus menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui materi tingkatan rezeki, jemaah diharapkan semakin mampu memandang kehidupan secara seimbang, yakni tetap berusaha meningkatkan kesejahteraan tanpa melupakan rasa syukur, kejujuran, kepedulian sosial, dan kedekatan kepada Allah Swt. 

(m/AZD)