Banjarnegara (Humas) — Semangat kemandirian ekonomi terus tumbuh dari pelosok desa. Salah satu kisah inspiratif datang dari Sucipto, mustahik produktif asal Desa Kalitengah, Kecamatan Purwanegara, yang berhasil mengembangkan usaha pembibitan ikan lele hingga meraih omzet belasan juta rupiah setiap panen.
Sucipto merupakan salah satu penerima manfaat program pemberdayaan ekonomi dari BAZNAS Provinsi Jawa Tengah yang telah mendapatkan pendampingan selama kurang lebih 15 bulan dari Retno Purnawati, Penyuluh Agama Islam di KUA Kecamatan Purwanegara.
Pada Sabtu (18/4/2026), Retno kembali melakukan pendampingan langsung di lokasi usaha Sucipto yang berada di area cukup terpencil. Dalam kegiatan tersebut, ia memberikan arahan terkait pemanfaatan dana zakat agar digunakan secara tepat sasaran, khususnya untuk pengembangan usaha yang berkelanjutan.
Perjalanan menuju lokasi usaha Sucipto bukanlah hal yang mudah. Terletak di tengah hutan, akses awal menuju kolam pembibitan harus ditempuh dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih satu kilometer, bahkan harus menyusuri aliran sungai tanpa adanya jembatan penghubung.
Namun, keterbatasan tersebut tidak menyurutkan langkah Sucipto untuk terus berkembang. Berkat ketekunan dan hasil usahanya yang semakin maju, kini ia mampu membangun jembatan kayu sederhana yang memudahkan akses menuju lokasi kolam. Jembatan tersebut tidak hanya bermanfaat bagi dirinya, tetapi juga menjadi jalan alternatif bagi para petani lain yang hendak menuju ladang mereka.
Perkembangan usaha pembibitan lele yang dijalankan Sucipto terbilang signifikan. Dari awal yang sederhana, kini jumlah kolam yang dimilikinya terus bertambah. Produksi bibit lele pun meningkat, sehingga setiap kali panen, omzet yang diperoleh bisa mencapai belasan juta rupiah.
Keberhasilan ini tidak lepas dari sinergi antara kerja keras Sucipto dan pendampingan yang konsisten. Retno Purnawati dalam setiap kesempatan selalu menekankan pentingnya pengelolaan keuangan, perencanaan usaha, serta pemanfaatan dana zakat secara produktif agar dapat memberikan dampak jangka panjang.
“Kami terus mendorong agar dana zakat tidak hanya habis untuk kebutuhan sesaat, tetapi benar-benar menjadi modal yang berkembang dan mampu mengangkat kesejahteraan mustahik,” ujarnya di sela kegiatan pendampingan.
Kisah Sucipto menjadi bukti nyata bahwa program zakat produktif mampu mengubah kehidupan masyarakat jika dikelola dengan baik. Dari akses yang sulit di tengah hutan hingga mampu membangun jembatan sendiri, dari usaha kecil hingga omzet belasan juta rupiah, semua menjadi gambaran nyata transformasi mustahik menuju kemandirian.
Ke depan, diharapkan semakin banyak mustahik yang terinspirasi untuk mengembangkan potensi usaha mereka. Dengan kolaborasi antara penyuluh agama, lembaga zakat, dan semangat pantang menyerah dari para pelaku usaha, cita-cita menjadikan mustahik bertransformasi menjadi muzakki bukanlah hal yang mustahil.
(rp/azd)







