Banjarnegara (Humas) – Suasana khidmat menyelimuti Gedung Balai Desa Sokaraja pada Selasa (31/3/2026) pagi. Sebanyak 49 jamaah yang merupakan wali siswa TK PGRI Sokaraja berkumpul dalam kegiatan bimbingan penyuluhan yang diselenggarakan oleh Majelis Taklim (MT) Mumtaza Syahla. Kegiatan rutin ini menghadirkan narasumber spesial, M. Syaiful Abidin, seorang Penyuluh Agama Islam dari Kantor Urusan Agama (KUA) Pagentan.
Mengangkat tema filosofis “Memulai dari Titik Nol,” Syaiful mengajak para orang tua untuk melakukan refleksi mendalam mengenai pola asuh anak dan pembersihan hati. Menurutnya, mendidik anak di era digital memerlukan kesabaran ekstra dan landasan spiritual yang kokoh.
Dalam ceramahnya, M. Syaiful Abidin juga mengaitkan esensi tema tersebut dengan suasana kemenangan Idulfitri yang masih terasa hangat. Beliau menyampaikan bahwa “Titik Nol” adalah wujud nyata dari kembalinya seseorang kepada fitrah.
“Baru saja kita melewati Idulfitri, di mana kita saling memaafkan dan melebur dosa. Inilah sebenarnya ‘Titik Nol’ kita. Jika Idulfitri kemarin kita ibaratkan sebagai bayi yang baru lahir, maka bimbingan hari ini adalah upaya agar kita tidak mengotori lagi lembaran putih tersebut dengan penyakit hati. Mari kita jaga konsistensi ibadah dan kebersihan jiwa ini dalam mendidik anak-anak kita ke depannya,” tambah Syaiful.
Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari pihak sekolah dan pengurus majelis taklim. Kehadiran penyuluh agama dinilai memberikan warna baru dan pemahaman keagamaan yang lebih moderat serta menyejukkan bagi para wali murid.
Khusnul Khotimah, selaku Ketua MT Mumtaza Syahla yang juga menjabat sebagai Kepala TK PGRI Sokaraja, melihat kegiatan penyuluhan ini sebagai momen halalbihalal yang produktif bagi para wali siswa TK PGRI Sokaraja.
“Momen ini menjadi penyempurna Idulfitri kami. Setelah secara tradisi kita bermaaf-maafan, secara ilmu kita diperkuat lagi oleh Pak Syaiful untuk benar-benar berani memulai segalanya dari nol, tanpa beban kebencian atau rasa bersalah yang menghambat kita menjadi orang tua teladan,” pungkas Khusnul.
Acara ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif dan doa bersama. Para peserta tampak antusias mengikuti jalannya diskusi, mencerminkan tingginya kebutuhan masyarakat akan bimbingan spiritual di tingkat akar rumput.
(msa/azd)
