Podcast Madtsansa Ada Apa Episode ke-19 Spesial Outdoor Hadirkan Kepala Disarpus Banjarnegara

Banjarnegara (Humas) – Suasana pelataran Kantor Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Kabupaten Banjarnegara pada Kamis (23/10) terasa berbeda dari biasanya. Di tengah semarak Festival Literasi Tahun 2025, MTs Negeri 1 Banjarnegara menghadirkan siaran spesial podcast Madtsansa Ada Apa? episode ke-19 dengan format outdoor live recording langsung dari stand bazar literasi Madtsansa.

Episode kali ini menghadirkan narasumber istimewa, Arief Rahman, Kepala Disarpus Kabupaten Banjarnegara. Bertindak sebagai host adalah Linara, guru matematika sekaligus pembimbing kelas unggulan Sastra Madtsansa. Podcast berdurasi sekitar 30 menit itu berhasil menarik perhatian pengunjung festival dengan konsep interaktif dan suasana yang santai namun penuh makna.

Dalam pembukaannya, Linara memperkenalkan kegiatan podcast ini sebagai bentuk partisipasi MTs Negeri 1 Banjarnegara dalam menghidupkan semangat literasi daerah.

“Kali ini sangat special karena kami hadir bukan di studio, tapi langsung di pelataran Disarpus,” ujar Linara membuka siaran.

Sebagai narasumber, Arief Rahman menyampaikan apresiasinya terhadap semangat para pelajar dan guru MTsN 1 Banjarnegara yang terus berinovasi dalam dunia literasi. Ia menilai kehadiran podcast tersebut sebagai bentuk adaptasi positif terhadap perkembangan teknologi di dunia pendidikan.

“Festival Literasi 2025 kami selenggarakan untuk menumbuhkan budaya literasi di seluruh lapisan masyarakat dari sekolah, perpustakaan, hingga pelaku UMKM,” ungkap Arief.

“Literasi sekarang harus diartikan lebih luas: tidak hanya membaca buku, tapi juga literasi digital, finansial, dan budaya.”

Menurutnya, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Banjarnegara kini berfokus pada tiga strategi utama dalam membangun budaya literasi, yaitu penguatan perpustakaan sekolah dan desa, digitalisasi layanan, serta pelatihan sumber daya manusia literasi.

“Kami juga mengembangkan program Perpus Go Digital agar masyarakat bisa mengakses buku dan arsip secara online. Literasi harus bisa diakses siapa saja, di mana saja,” tambahnya.

Namun, Arief juga tidak menutup mata terhadap tantangan yang dihadapi di era digital.

“Tantangan terbesar adalah minat baca yang masih rendah dan distraksi digital. Tapi kita tidak boleh melawan teknologi justru harus memanfaatkannya. Podcast seperti ini salah satu contohnya. Anak muda bisa jadi motor penggerak literasi dengan media yang mereka kuasai.”

Linara kemudian menutup sesi wawancara dengan mengajak narasumber berbagi pesan kepada generasi muda Banjarnegara.

“Jadilah pembelajar sepanjang hayat. Gunakan literasi untuk mengenal diri dan dunia. Dengan literasi, kita bisa bermimpi dan mewujudkannya,” pesan Arief penuh semangat.

Kepala MTs Negeri 1 Banjarnegara, H. Yatiman, menyambut positif publikasi podcast ini.

“Kami sangat bangga karena Madtsansa Ada Apa?* terus berkembang menjadi media edukatif yang inspiratif. Episode kali ini bukan hanya bentuk partisipasi madrasah dalam festival literasi, tapi juga bukti bahwa siswa dan guru Madtsansa mampu berkolaborasi menciptakan karya kreatif berbasis literasi digital,” tutur H. Yatiman.

Sementara itu, Kepala Perpustakaan MTsN 1 Banjarnegara, Bambang Naryanto, mengungkapkan bahwa produksi podcast tersebut merupakan bagian dari program literasi sekolah.

“Podcast menjadi media baru bagi siswa untuk belajar berbicara, menulis naskah, dan menyampaikan gagasan secara menarik. Kami ingin literasi di Madtsansa tidak hanya berhenti di membaca dan menulis, tetapi juga berbicara dan mendengarkan dengan makna,” jelas Bambang.

Suasana pelataran Disarpus pun kian ramai saat Linara dan Arief mengakhiri podcast dengan yel-yel semangat bersama pengunjung festival.

“Salam Literasi! Buku kubaca, arsip kujaga! Madtsansa Semakin Mendunia” seru mereka serempak diiringi tepuk tangan dan alunan musik penutup.

Dengan publikasi episode ke-19 ini, Madtsansa Ada Apa? semakin menegaskan posisinya sebagai media literasi kreatif yang mampu menginspirasi pelajar dan masyarakat Banjarnegara untuk terus berkarya dan beradaptasi di era digital. (Fy/La)

Skip to content