Banjarnegara (Humas) – Bulan Ramadan seringkali diidentikkan dengan suasana syahdu, penuh ibadah, dan konon katanya setan-setan yang dibelenggu. Namun, kenyataannya, kenapa ya masih ada saja orang yang marah-marah, bergunjing, atau bahkan melakukan dosa lain saat puasa? Fenomena unik ini menjadi topik hangat dalam bimbingan penyuluhan yang digelar oleh Penyuluh Agama Islam KUA Pagentan, M. Syaiful Abidin, pada Rabu (4/3/2026).
Bertempat di Gedung Pimpinan Ranting Muhammadiyah Dusun Bulu, acara ini dihadiri oleh 22 jamaah dari Majelis Taklim (MT) Nasyiatul Aisyiyah Ranting Bulu, Cabang Pagentan. Suasana yang biasanya serius berubah menjadi santai dan penuh diskusi interaktif saat Syaiful mulai membedah tema bertajuk: “Setan Dibelenggu, Orang Masih Bermaksiat di Bulan Ramadan.”
Syaiful menjelaskan dengan gaya bicaranya yang lugas namun santun bahwa meskipun setan “dipenjara”, manusia masih memiliki musuh dalam selimut, yaitu hawa nafsu yang sudah terbiasa dimanjakan selama sebelas bulan lainnya.
“Jangan melulu menyalahkan setan kalau kita masih julid atau malas ibadah di bulan puasa. Ibarat kipas angin yang dicabut kabelnya, baling-balingnya tidak langsung berhenti, kan? Masih ada sisa putaran. Nah, itulah nafsu kita. Setannya sudah dibelenggu, tapi ‘residual’ kebiasaan buruk kita masih jalan terus. Ramadan ini adalah momentum untuk mengerem putaran nafsu tersebut,” ujar M. Syaiful Abidin di sela-sela materinya.
Sebanyak 22 ibu-ibu muda dan remaja putri Nasyiatul Aisyiyah nampak manggut-manggut mendengar penjelasan tersebut. Diskusi mengalir dua arah, membahas tips-tips praktis agar puasa tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, tapi juga menjadi ajang “detoks” hati.
Ketua MT Nasyiatul Aisyiyah Ranting Bulu, Khusnul Khotimah, mengaku sangat terkesan dengan materi yang dibawakan. Menurutnya, penjelasan dari pihak KUA memberikan sudut pandang baru yang sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari.
“Kami sangat berterima kasih kepada Pak Syaiful. Tema ini benar-benar menyentil sekaligus memotivasi kami. Ternyata musuh terbesar itu bukan setan yang jauh di sana, tapi ego dan kebiasaan buruk dalam diri sendiri. Semoga dengan penyuluhan ini, 22 jamaah yang hadir bisa menjalani sisa Ramadan dengan lebih berkualitas dan lebih mawas diri,” ungkap Khusnul Khotimah.
Acara yang berlangsung gayeng ini ditutup dengan doa bersama dan komitmen para jamaah untuk lebih fokus memperbaiki akhlak, mumpung “sang provokator” (setan) sedang tidak bisa berkutik.
(msa/azd)
