Banjarnegara – Program Literasi Ramadhan MI Al Fatah Parakancanggah terus menghadirkan pesan-pesan mendalam dari para siswa. Memasuki hari ke-25, salah satu siswi kelas 5D kembali menampilkan karya yang sarat makna dengan tema refleksi diri di bulan suci.(16/3)
Dalam tulisannya, ia mengangkat pesan bahwa Ramadhan bukan sekadar rutinitas ibadah, tetapi juga momentum untuk bercermin secara ruhani. “Ramadhan adalah cermin ruhani. Saat bercermin, jangan hanya melihat rupa, tapi tataplah hati, seberapa banyak noda yang perlu disucikan dengan istighfar?” tulisnya penuh penghayatan.
Pesan tersebut mengajak setiap pembaca untuk tidak hanya fokus pada penampilan luar, tetapi juga memperhatikan kondisi hati. Ramadhan menjadi waktu yang tepat untuk membersihkan diri dari kesalahan, memperbanyak istighfar, serta memperbaiki akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
Guru kelas 5D menyampaikan bahwa karya ini menunjukkan kedewasaan berpikir siswa dalam memahami makna Ramadhan. “Tulisan ini sederhana, namun sangat dalam. Anak-anak mulai belajar bahwa ibadah bukan hanya terlihat, tetapi juga dirasakan dalam hati,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Madrasah MI Al Fatah Parakancanggah juga memberikan apresiasi atas konsistensi siswa dalam program literasi ini. “Kami bangga melihat anak-anak mampu menuangkan pemikiran reflektif seperti ini. Inilah tujuan literasi Ramadhan, membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki hati yang bersih dan penuh kesadaran diri,” tuturnya.
Melalui karya ini, siswa diingatkan bahwa introspeksi adalah kunci perbaikan diri. Seperti cermin yang menunjukkan kekurangan pada wajah, Ramadhan hadir sebagai cermin hati yang membantu manusia melihat kekurangan dalam dirinya.
Dengan memperbanyak istighfar dan memperbaiki diri, setiap insan memiliki kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik sebelum Ramadhan berakhir. Karena sejatinya, keberhasilan Ramadhan bukan hanya diukur dari banyaknya ibadah, tetapi dari seberapa besar perubahan dalam hati dan perilaku kita.(nas)
