Regenerasi Pengurus Jenazah, Majelis Taklim Al Huda Dibimbing Langsung oleh Penyuluh Agama Islam

Banjarnegara (Humas) – Kesadaran akan pentingnya regenerasi dalam praktik keagamaan mulai ditanamkan secara serius oleh para Penyuluh Agama Islam Kecamatan Pandanarum. Hal ini tampak dalam kegiatan pertemuan rutin Majelis Taklim Al Huda yang kali ini dihadiri oleh dua Penyuluh Agama Islam setempat yaitu Efatun Vaizah dan Turno. (20/9)

Kegiatan yang digelar di Mushola Al Ikhlas, Dusun Temon, Desa Pandanarum tersebut berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Sebanyak 25 anggota majelis taklim hadir mengikuti kegiatan yang dimulai sejak pukul 13.00 WIB hingga menjelang waktu Ashar.

Pada kesempatan ini, para penyuluh melanjutkan penyampaian materi mengenai pemulasaraan jenazah, sebuah tema penting yang mendapat perhatian khusus dari para jamaah. Materi ini dinilai sangat relevan, mengingat selama ini praktik pemulasaraan jenazah, terutama di kalangan perempuan. Sering kali hanya dikuasai oleh ibu-ibu lansia, tanpa ada proses regenerasi yang memadai.

Efatun Vaizah memulai sesi dengan menyampaikan tata cara memandikan jenazah sesuai dengan tuntunan syariat Islam. Ia menjelaskan dengan rinci langkah-langkah yang harus dilakukan mulai dari niat, perlakuan terhadap jenazah, hingga adab dan etika yang perlu diperhatikan.

“Memandikan jenazah adalah fardhu kifayah. Jika tidak ada yang melakukannya, maka semua orang di sekitarnya ikut berdosa. Karena itu, sangat penting untuk kita memahami tata caranya, agar bisa saling membantu ketika dibutuhkan,” ujar Efatun.

Sesi berikutnya dilanjutkan oleh Turno, yang membawakan materi mengenai cara mengkafani jenazah. Ia menjelaskan teknik pengafanan untuk laki-laki dan perempuan, serta memberikan penjelasan tentang jumlah kain kafan, cara melipat, hingga posisi tubuh jenazah saat dikafani.

“Tidak semua orang berani atau tahu bagaimana mengkafani jenazah dengan benar. Padahal, ini bagian dari penghormatan terakhir kita kepada saudara Muslim yang telah wafat. Maka regenerasi sangat penting agar ilmunya tidak berhenti di generasi tua saja,” terang Turno.

Diskusi berlangsung interaktif, dengan beberapa peserta aktif bertanya dan berbagi pengalaman terkait kejadian di masyarakat. Suasana yang hangat dan kekeluargaan menjadikan materi yang berat ini terasa lebih ringan dan mudah dipahami.

Melalui kegiatan ini, diharapkan para anggota Majelis Taklim Al Huda tidak hanya memahami teori, tetapi juga siap terlibat dalam praktik pemulasaraan jenazah di lingkungan masing-masing. Regenerasi keilmuan di bidang ini menjadi langkah penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi dan kewajiban umat Islam secara kolektif.

Majelis Taklim Al Huda sendiri merupakan salah satu kelompok pengajian aktif di wilayah Pandanarum yang rutin mengadakan pertemuan dan pengajian keagamaan. Dukungan dari penyuluh agama seperti Efatun dan Turno menjadi motivasi tambahan bagi para anggota dalam meningkatkan kualitas ibadah dan wawasan keislaman mereka. (ev, azd)

Skip to content