Banjarnegara – Menciptakan lingkungan madrasah yang ramah anak tidak hanya dilakukan melalui peran guru, tetapi juga dengan melibatkan peserta didik sebagai agen kebaikan. Inilah yang diwujudkan MIFABARA melalui Layanan Bimbingan Konseling Sebaya, sebuah program yang memberikan ruang bagi murid untuk saling mendengar, mendukung, dan menguatkan teman-temannya dalam menghadapi berbagai tantangan di lingkungan madrasah.(30/7)
Program ini menghadirkan konselor sebaya yaitu murid yang telah mendapatkan pembekalan dari guru pembimbing mengenai keterampilan komunikasi, kemampuan mendengarkan secara aktif, menjaga kerahasiaan, menumbuhkan empati, serta cara memberikan dukungan positif kepada teman. Kehadiran mereka menjadi “teman pertama” yang siap mendampingi ketika ada murid yang merasa canggung atau belum berani menyampaikan permasalahannya kepada guru.
Bimbingan konseling sebaya tidak bertujuan menggantikan peran guru BK, melainkan menjadi jembatan yang memperkuat hubungan antarmurid.
Apabila ditemukan permasalahan yang memerlukan penanganan lebih lanjut, konselor sebaya akan berkoordinasi dengan guru pembimbing untuk memberikan pendampingan yang tepat. Dengan demikian, setiap murid tetap mendapatkan layanan profesional sesuai kebutuhannya tanpa mengabaikan prinsip kerahasiaan dan kenyamanan peserta didik.
Lebih dari sekadar tempat berbagi cerita, program ini menjadi media pembelajaran karakter yang nyata. Murid belajar menjadi pendengar yang baik, menghargai perbedaan, menjaga kepercayaan, serta memiliki kepedulian terhadap kondisi teman di sekitarnya. Nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting dalam membangun budaya madrasah yang saling menghormati, saling membantu, dan bebas dari perundungan.
Kepala Madrasah MI Al Fatah Parakancanggah, Durotun Nafisah, menjelaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari kemampuan peserta didik membangun hubungan sosial yang sehat.
“Melalui Bimbingan Konseling Sebaya, kami ingin menanamkan bahwa setiap murid dapat menjadi sahabat yang membawa manfaat bagi temannya. Ketika anak belajar mendengarkan, memahami, dan membantu sesama dengan tulus, saat itulah karakter kepemimpinan, empati, dan kepedulian sosial tumbuh dengan kuat. Inilah nilai-nilai yang ingin terus kami hidupkan di MIFABARA,” tuturnya.
Melalui langkah sederhana namun bermakna ini, MIFABARA membuktikan bahwa pendidikan karakter dapat tumbuh dari kepedulian antarteman. Sebab, terkadang satu telinga yang mau mendengarkan, satu hati yang mau memahami, dan satu sahabat yang mau menemani dapat menjadi awal lahirnya senyum, semangat, dan harapan baru bagi seorang anak.(nas)







