Banjarnegara (Humas) – Suasana khidmat menyelimuti pertemuan rutin Majelis Taklim An-Nuur di Desa Plumbungan, Kecamatan Pagentan, pada Jumat (10/4/2026). Sebanyak 30 jamaah hadir memenuhi ruangan untuk mengikuti bimbingan penyuluhan agama yang menghadirkan narasumber dari Kantor Urusan Agama (KUA) Pagentan.
Hadir sebagai pemateri, Penyuluh Agama Islam fungsional KUA Pagentan, Sutrisno, membawakan tema yang sangat relevan dengan dinamika sosial masyarakat saat ini, yaitu “Menjadi Pribadi Pemaaf”. Dalam paparannya, Sutrisno menekankan bahwa memaafkan bukanlah tanda kelemahan, melainkan refleksi dari kekuatan iman dan kematangan jiwa seseorang.
Sutrisno menjelaskan bahwa menyimpan dendam ibarat membawa beban berat yang hanya akan melelahkan diri sendiri. Ia mengutip pesan-pesan qurani tentang keutamaan menahan amarah dan memberikan maaf kepada sesama manusia.
“Menjadi pribadi pemaaf adalah investasi kebahagiaan dunia dan akhirat. Ketika kita memaafkan, kita sebenarnya sedang membebaskan diri kita dari belenggu kebencian yang menghambat produktivitas ibadah. Allah Swt sangat mencintai hamba-Nya yang memiliki kelapangan hati,” ujar Sutrisno di sela-sela materinya.
Ia juga menambahkan bahwa sikap pemaaf merupakan kunci utama dalam menjaga kerukunan bertetangga, terutama di lingkungan pedesaan yang menjunjung tinggi nilai gotong royong.
Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari para peserta. Surtinah, selaku Ketua Majelis Taklim An-Nuur, menyampaikan rasa terima kasihnya atas kehadiran penyuluh dari KUA Pagentan yang rutin memberikan pencerahan kepada warga Desa Plumbungan.
“Kami sangat bersyukur Pak Sutrisno bisa hadir langsung memberikan bimbingan. Materi hari ini sangat menyentuh hati kami semua. Harapannya, setelah pulang dari sini, ibu-ibu jamaah bisa lebih sabar dan tidak mudah tersinggung, sehingga kerukunan di Desa Plumbungan ini tetap terjaga dengan baik,” ungkap Surtinah.
Bimbingan penyuluhan ini merupakan bagian dari program rutin KUA Pagentan dalam melakukan pembinaan mental dan spiritual di tingkat desa. Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat tidak hanya mendapatkan ilmu secara teoritis, tetapi juga mampu mengaplikasikan nilai-nilai akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari.
Acara yang dimulai pukul 14.00 WIB tersebut ditutup dengan sesi tanya jawab dan doa bersama. Para jamaah tampak antusias mendiskusikan berbagai persoalan keseharian yang berkaitan dengan hubungan antarmanusia (hablum minannas) sebelum akhirnya membubarkan diri dengan tertib.
(3S/azd)







