Sinergi Penyuluh Agama dan Pendamping Desa: Menguatkan Mentalitas Syukur dan Kemandirian Ekonomi Keluarga di Kalitlaga

Banjarnegara (Humas) – Semangat kebersamaan terpancar dari wajah para ibu anggota Program Keluarga Harapan (PKH) Desa Kalitlaga saat mengikuti bimbingan dan penyuluhan agama yang digelar pada Selasa pagi (5/5/2026). Kegiatan yang dipusatkan di rumah Kiyanti salah satu anggota PKH ini dimulai pukul 09.00 WIB hingga selesai, menghadirkan nuansa spiritual yang berpadu dengan penguatan kesejahteraan sosial.

Alfiana Nurhidayah, Penyuluh Agama Islam dari Kantor Urusan Agama (KUA) Pagentan, hadir sebagai narasumber utama. Dalam kesempatan tersebut, bimbingan ini juga dihadiri oleh dua tokoh penting pendampingan masyarakat, yakni Gatot Aribowo dan Nur Hakim selaku Pendamping Desa. Kehadiran lintas sektor ini menunjukkan adanya komitmen kuat untuk membangun masyarakat Desa Kalitlaga tidak hanya dari sisi materi, tetapi juga dari sisi mental dan spiritual.

Tema yang diangkat dalam pertemuan kali ini adalah “Manajemen Syukur: Mengubah Mentalitas Tangan di Bawah Menjadi Tangan di Atas.” Tema ini dipilih untuk memotivasi para Keluarga Penerima Manfaat (KPM) PKH agar tetap optimis dan memiliki tekad kuat untuk mandiri melalui nilai-nilai keislaman.

Dalam tausiyahnya, Alfiana Nurhidayah menekankan bahwa bantuan sosial yang diterima harus disikapi sebagai jembatan untuk menuju kemandirian, bukan sebagai sandaran selamanya. Ia menjelaskan bahwa Islam sangat memuliakan kerja keras dan kemandirian ekonomi.

“Agama kita mengajarkan bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Syukur yang sejati bukan hanya diucapkan di lisan, melainkan dibuktikan dengan kesungguhan mengelola apa yang ada untuk menjadi lebih berdaya, sehingga kelak dari penerima manfaat bisa menjadi pemberi manfaat bagi orang lain,” tegas Alfiana Nurhidayah di hadapan peserta.

Sesi penyuluhan menjadi semakin dinamis dengan adanya arahan dari Gatot Aribowo. Sebagai Pendamping Desa, beliau menyoroti pentingnya sinkronisasi antara bimbingan spiritual dengan program pemberdayaan ekonomi desa. Ia mengajak para ibu PKH untuk jeli melihat peluang usaha kecil di lingkungan sekitar.

Sejalan dengan hal tersebut, Nur Hakim juga memberikan pandangannya mengenai ketahanan keluarga. Beliau menekankan bahwa kemandirian ekonomi harus didasari oleh kejujuran dan keberkahan dalam mencari nafkah.

“Kolaborasi antara pembinaan agama oleh Penyuluh KUA dan pendampingan lapangan yang kami lakukan bertujuan agar bantuan yang diterima menjadi berkah. Jika hati sudah dilandasi iman dan rasa syukur, maka semangat untuk mandiri secara ekonomi akan muncul dengan sendirinya,” ujar Nur Hakim memberikan motivasi.

Acara ditutup dengan sesi diskusi dan konsultasi keagamaan. Para peserta tampak antusias menanyakan berbagai persoalan, mulai dari cara mengatur keuangan rumah tangga secara syariah hingga mendidik anak agar memiliki sifat qana’ah. Dengan terlaksananya kegiatan ini, diharapkan para anggota PKH di Desa Kalitlaga semakin tangguh secara mental dan termotivasi untuk mencapai kemandirian ekonomi di masa depan.

(an/azd)

Skip to content