Banjarnegara – Suasana ceria namun khidmat menyelimuti teras Kelas 1 MIFABARA pada Selasa pagi (23/2). Di bawah semilir angin pagi, para siswa duduk rapi menyimak materi Amaliyah Ramadhan yang dibawakan oleh Luqman, guru mata pelajaran Akidah Akhlak.
Luqman mengawali materinya dengan menekankan bahwa puasa dimulai dari hati, yaitu niat. Ia menjelaskan bahwa niat bukan sekadar ucapan, melainkan janji setia seorang hamba kepada Allah SWT.
“Anak-anak, puasa itu melatih kejujuran. Hanya kita dan Allah yang tahu apakah kita benar-benar puasa atau tidak. Inilah inti dari Akidah kita, merasa selalu diawasi oleh Allah,” ujar Luqman dengan lembut kepada para siswa kelas 1.
Dalam sesi ini, Luqman merinci hal-hal yang dapat membatalkan puasa dengan bahasa yang mudah dipahami anak-anak. Seperti makan dan minum dengan sengaja, memasukkan benda ke lubang tubuh dengan sengaja, dan marah-marah atau berkata buruk (yang dapat merusak pahala puasa secara akhlak).
Ia mengaitkan konsep “menahan diri” dengan pembentukan akhlakul karimah. Puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan lisan dari mengejek teman dan menjaga tangan agar tetap berbuat baik.
Interaksi semakin menarik saat Asbik, salah satu siswa kelas 1, mengajukan pertanyaan kritis yang memancing tawa sekaligus kekaguman.
“Ustadz, kalau saya tidak sengaja minum karena lupa, apakah Allah marah dan puasa saya batal?” tanya Asbik
Sambil tersenyum, Luqman menjawab, “Itu namanya rezeki dari Allah, Asbik. Kalau benar-benar lupa, puasanya tetap sah dan tidak batal. Tapi setelah ingat, airnya harus segera diletakkan ya, jangan diteruskan minumnya!”
Kegiatan di teras kelas ini ditutup dengan praktik melafalkan niat puasa bersama-sama. Melalui pembelajaran luar ruang ini, MIFABARA berharap siswa kelas 1 dapat menjalankan ibadah Ramadhan dengan pemahaman akidah yang kuat serta akhlak yang terjaga sejak usia belia.(mac/nas)
