Tim Riset MTs Negeri 1 Banjarnegara Gali Informasi Krisis Air Bersih di Desa Kaliajir

Banjarnegara (Humas) – Kamis (7/8) Tim riset dari MTs Negeri 1 Banjarnegara yang terdiri atas dua siswa, Zalfa dan Zulfi, melaksanakan kegiatan wawancara lapangan di Desa Kaliajir, Kecamatan Purwanegara, Banjarnegara. Kegiatan ini bertujuan untuk menggali data langsung mengenai krisis air bersih yang melanda desa tersebut, terutama saat musim kemarau, serta memperkenalkan solusi teknologi pemanen air sebagai bagian dari riset mereka yang diikutsertakan dalam ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI).

Wawancara dilakukan dengan Kepala Desa Kaliajir, Zaenal Arifin, serta beberapa warga setempat, salah satunya Latif Fatayan. Kegiatan tersebut juga didampingi oleh pembimbing riset, Nailia Ziyada.

Dalam keterangannya, Zaenal Arifin menyampaikan bahwa Desa Kaliajir telah mengalami krisis air bersih secara berulang setiap musim kemarau.

“Setiap tahun, saat kemarau datang, debit sumber air utama di desa kami menurun drastis. Warga terpaksa mengambil air dari sumber yang jauh atau membeli air bersih. Hal ini sudah menjadi perhatian serius sejak lima tahun terakhir, dan menjadi tantangan utama pemerintah desa,” ujar Zaenal Arifin.

Zaenal juga menambahkan bahwa pemerintah desa telah berupaya menjalin kerja sama dengan pihak luar, termasuk BPBD dan lembaga sosial, untuk pengadaan air bersih saat kekeringan. Namun, solusi jangka panjang masih menjadi kebutuhan mendesak.

“Kami menyambut baik adanya riset seperti ini yang bisa memberi kontribusi ide maupun teknologi praktis,” tambahnya.

Warga desa, Latif Fatayan, turut memberikan kesaksian mengenai kondisi yang dihadapi masyarakat.

“Kalau sudah musim kemarau, kami harus antre berjam-jam di sumber air yang tersisa, kadang juga harus beli air tangki yang harganya mahal. Air bersih jadi barang langka, apalagi untuk mandi dan mencuci,” tutur Latif dengan nada prihatin.

Zalfa dan Zulfi, sebagai anggota tim riset, mengaku banyak mendapatkan wawasan dari kegiatan wawancara tersebut.

“Kami melihat langsung dampaknya, dan ini menjadi dasar kuat bagi riset kami untuk menghadirkan solusi teknologi pemanen air sederhana namun efektif,” ujar Zulfi.

Zalfamenambahkan bahwa alat yang sedang mereka teliti adalah sistem pemanen air berbasis Thermoelectric Cooler (TEC) yang bisa memanfaatkan kelembaban udara di lingkungan sebagai sumber air alternatif.

“Kami berharap alat ini bisa membantu masyarakat desa seperti Kaliajir agar tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan air dari luar saat kemarau,” jelasnya.

Pembimbing riset, Nailia Ziyada, menyampaikan apresiasi atas sambutan baik dari pihak desa dan partisipasi warga. Ia juga menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran aktif bagi siswa untuk melakukan riset berbasis masalah nyata.

“Anak-anak kami dorong untuk tidak hanya berinovasi, tetapi juga peduli dan terjun langsung ke masyarakat. Riset ini diharapkan tidak berhenti di laboratorium, tapi bisa diterapkan,” ujar Nailia Ziyada.

Melalui wawancara ini, tim riset MTs Negeri 1 Banjarnegara berharap dapat mengembangkan teknologi yang tepat guna dan bermanfaat bagi masyarakat. Riset ini tidak hanya bertujuan untuk meraih prestasi dalam ajang kompetisi, tetapi juga menjadi kontribusi nyata dalam menyelesaikan permasalahan krisis air bersih di daerah rawan kekeringan seperti Desa Kaliajir. (Lin/La)

Skip to content