Tingkah Lucu Santri PAUD Warnai Pembelajaran Sholat, Penyuluh Agama Pandanarum Tanamkan Ibadah Sejak Dini di TPQ Nurul Hidayah Beji

Banjarnegara (Humas) – Suasana ceria dan penuh kehangatan terasa di TPQ Nurul Hidayah Desa Beji saat kegiatan pengajian anak-anak berlangsung. Kehadiran Penyuluh Agama Islam Kecamatan Pandanarum yaitu Efatun Vaizah memberikan warna tersendiri dalam pembelajaran yang tidak hanya edukatif, tetapi juga menyenangkan. (21/4/2026)

Dalam kesempatan tersebut, Efatun mengajarkan doa-doa harian serta praktik gerakan sholat kepada para santri. Metode yang digunakan pun dibuat interaktif, sehingga anak-anak dapat langsung menirukan setiap gerakan yang dicontohkan. Mulai dari takbiratul ihram hingga salam, para santri mengikuti dengan penuh semangat.

Keceriaan semakin terasa ketika santri yang masih berusia PAUD ikut ambil bagian. Tingkah polos dan lucu mereka, seperti gerakan yang belum sempurna hingga ekspresi spontan saat mengikuti instruksi, justru menjadi momen yang menghidupkan suasana. Meski demikian, Efatun tetap membimbing dengan penuh kesabaran dan kelembutan.

“Anak-anak itu belajar dengan cara meniru dan bermain. Jadi kita harus sabar dan membuat suasana belajar itu menyenangkan, agar mereka tidak merasa terbebani,” tutur Efatun.

Tidak sedikit santri yang mulai menunjukkan perkembangan, terlihat dari keberanian mereka mempraktikkan gerakan sholat secara mandiri. Hal ini menjadi tanda bahwa pendekatan praktik langsung sangat efektif dalam pembelajaran usia dini.

Kegiatan ini juga mendapat sambutan positif dari Pembina TPQ Nurul Hidayah, Krisdiana Lestari. Ia mengungkapkan rasa syukur dan apresiasinya atas keterlibatan penyuluh dalam mendampingi proses belajar para santri.

“Kami sangat senang dan terbantu dengan kehadiran Ibu Efatun. Anak-anak terlihat lebih antusias dan mudah memahami karena diajarkan secara langsung. Bahkan yang biasanya sulit fokus, hari ini bisa ikut terlibat meski dengan cara mereka sendiri,” ungkapnya.

Menurutnya, momen seperti ini bukan hanya tentang belajar gerakan dan doa, tetapi juga tentang menanamkan kecintaan anak terhadap ibadah sejak dini.

Kegiatan ditutup dengan suasana penuh keakraban, di mana anak-anak tampak masih bersemangat menirukan gerakan yang telah dipelajari. Pengalaman belajar yang menyenangkan ini diharapkan dapat membekas dan menjadi langkah awal dalam membentuk generasi yang cinta ibadah, berakhlak mulia, dan dekat dengan nilai-nilai agama. 

(ev/azd)

Skip to content