Banjarnegara (Humas) – Di balik jeruji besi Rutan Kelas IIA Banjarnegara, sebuah transformasi spiritual tengah berlangsung. Sejumlah Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) nampak khusyuk mengikuti program Tahzin Al-Qur’an yang dirancang bukan sekadar untuk memperbaiki bacaan, namun sebagai sarana memperbaiki diri.
Kegiatan bimbingan rohani ini diampu oleh Diah Maziatu Chalida, seorang Penyuluh Agama Islam, yang secara rutin memberikan pendampingan spiritual. Pada sesi kali ini, fokus pembelajaran tertuju pada Surat An-Nazi’at ayat 26 hingga 40. (6/5/2026)
Pemilihan ayat 26-40 dalam Surat An-Nazi’at mengandung pesan mendalam tentang konsekuensi perbuatan manusia. Diah Maziatu Chalida menjelaskan bahwa ayat-ayat tersebut diawali dengan peringatan melalui kisah tragis Fir’aun sebagai pelajaran (’ibrah), dan diakhiri dengan janji kebahagiaan bagi mereka yang mampu menahan hawa nafsu.
“Melalui Tahzin ini, kita tidak hanya belajar di mana letak lidah saat mengucapkan huruf, tapi juga di mana letak hati saat membaca janji Allah,” ujar Diah di hadapan para warga binaan. Menurutnya, ayat 40 yang berbunyi tentang orang-orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsu, adalah pondasi utama bagi warga binaan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
“Kami tidak hanya mengejar benarnya makhraj dan tajwid, tetapi juga berusaha agar setiap ayat yang dibaca mampu menyentuh hati. Ayat 40, misalnya, mengingatkan tentang orang yang menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, dan itulah surga tempat kembalinya. Ini sangat relevan bagi saudara-saudara kita di sini,” ujar Diah di sela-sela kegiatannya.
Program ini menggunakan metode yang interaktif dan menyentuh hati:
Tahsinul Qira’ah: Perbaikan makhraj dan tajwid agar setiap huruf yang dilantunkan sesuai dengan kaidah yang benar.
Tadabbur Makna: Penjelasan tafsir ringkas mengenai ayat yang dibaca, sehingga warga binaan memahami pesan moral di balik setiap baris ayat suci.
Sentuhan Kalbu: Sesi motivasi yang mengaitkan isi Al-Qur’an dengan realitas kehidupan dan proses pertobatan.
Antusiasme terlihat jelas dari raut wajah para warga binaan. Bagi mereka, kelas Tahzin ini menjadi oase di tengah masa menjalani hukuman. Memperbaiki bacaan Al-Qur’an dianggap sebagai langkah awal untuk menata ulang masa depan mereka setelah bebas nanti.
Pihak Rutan Kelas IIA Banjarnegara berharap sinergi dengan Penyuluh Agama Islam seperti Diah Maziatu Chalida terus berlanjut. Program ini menjadi bukti bahwa pembinaan di dalam Rutan tidak hanya bersifat formalitas, tetapi menyentuh aspek paling fundamental dari manusia, yaitu iman dan karakter.
Dengan lantunan ayat suci yang semakin tartil, para warga binaan di Banjarnegara kini memiliki “senjata” baru: kesabaran dan keteguhan hati untuk terus berbenah diri di jalan yang diridhai-Nya.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama, menyisakan gurat semangat di wajah para warga binaan yang kini lebih lancar melantunkan ayat-ayat suci, membawa secercah cahaya harapan dari balik jeruji Banjarnegara.
(Dmc/azd)







