Banjarnegara (Humas) – MTs Negeri 1 Banjarnegara mengawali Rapat Pleno Komite dengan kegiatan parenting pada Sabtu, (30/8). Sesi pertama yang diperuntukkan bagi orang tua wali siswa kelas VII ini menghadirkan psikolog RSUD Banjarnegara, Ustadz Muhammad Ibnu Sina. Dalam penyampaian materinya, Ibnu Sina mengawali dengan membacakan QS Ibrahim ayat 39–40 yang berisi doa Nabi Ibrahim agar anak keturunannya senantiasa mendirikan salat dan mendapat rahmat Allah.
Dari ayat tersebut, Ibnu Sina merumuskan konsep “DUIT” sebagai kunci mendidik anak. DUIT merupakan singkatan dari Doa, Uswah (keteladanan), Introspeksi, dan Tuma’ninah. Dengan bahasa sederhana namun mendalam, ia menguraikan satu per satu pilar tersebut di hadapan ratusan wali siswa.
Menurut Ibnu Sina, pendidikan anak seyogianya dimulai dengan doa. “Doa adalah fondasi. Orang tua tidak boleh lalai mendoakan anaknya, sebab doa orang tua adalah doa yang mustajab. Nabi Ibrahim memulai dari doa, maka mari kita pun memulai dari doa,” ungkapnya.
Pilar kedua adalah Uswah atau keteladanan. Ia menekankan bahwa anak merupakan peniru ulung.
“Orang tua yang ingin anaknya jujur, rajin, disiplin, dan sopan, harus terlebih dahulu menampilkan itu semua dalam keseharian. Anak lebih banyak belajar dari apa yang ia lihat ketimbang dari apa yang ia dengar,” jelas Ibnu Sina.
Pilar ketiga adalah Introspeksi. Orang tua, katanya, perlu bercermin dalam mendidik anak.
“Jangan hanya menuntut anak sempurna sementara kita sendiri abai memberi contoh. Introspeksi akan membantu kita mendidik dengan cara yang lebih adil dan bijak,” ujarnya.
Adapun pilar keempat, Tuma’ninah, adalah sikap sabar dan tenang dalam menghadapi anak.
“Mendidik dengan emosi hanya akan melukai. Anak lebih mudah diarahkan jika kita mendekatinya dengan hati yang tenang dan penuh kasih sayang,” tambahnya.
Kepala MTs Negeri 1 Banjarnegara, H. Yatiman, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya parenting tersebut. Menurutnya, materi DUIT sangat sesuai dengan semangat pendidikan madrasah yang menekankan keseimbangan antara pengetahuan dan akhlak.
“Kami sangat mengapresiasi Ustadz Ibnu Sina yang telah membagikan ilmu berharga ini. Parenting seperti ini adalah ikhtiar bersama untuk menyatukan langkah antara madrasah dan orang tua. Dengan doa, keteladanan, introspeksi, dan tuma’ninah, insyaAllah anak-anak kita akan tumbuh menjadi generasi berkarakter dan berakhlak mulia,” tutur Yatiman.
Materi yang disampaikan dengan penuh hikmah itu mendapat tanggapan positif dari wali siswa. Salah satu orang tua wali siswa kelas VII, mengaku banyak tersadar dari pesan-pesan yang disampaikan.
“Saya merasa mendapat pencerahan. Selama ini mungkin saya hanya menekankan anak agar rajin belajar dan disiplin, tapi lupa memberi keteladanan dan introspeksi diri. Pesan tentang tuma’ninah juga membuat saya sadar, bahwa menghadapi anak tidak boleh dengan emosi. Konsep DUIT ini sangat praktis untuk diterapkan di rumah,” ungkap Ahmad Ali.
Guru Bimbingan Konseling MTsN 1 Banjarnegara, Nasiah Ningrum, menilai bahwa parenting ini sangat tepat waktunya. Menurutnya, siswa kelas VII berada dalam masa transisi dari anak-anak menuju remaja.
“Pada fase ini, anak sangat butuh pendampingan. Mereka sedang mencari jati diri, sehingga orang tua perlu sabar, telaten, dan mau belajar memperbaiki diri. Konsep DUIT ini akan sangat membantu. Doa menjaga spiritualitas, uswah menjadi teladan nyata, introspeksi membuat orang tua rendah hati, dan tuma’ninah menjadikan suasana keluarga harmonis,” jelas Nasiah.
Di penghujung acara, Yatiman menegaskan kembali pentingnya kolaborasi antara sekolah dan keluarga.
“Kami berharap pesan parenting hari ini tidak berhenti di aula ini saja, tetapi benar-benar diterapkan di rumah. Dengan begitu, apa yang kami lakukan di madrasah akan selaras dengan pendidikan keluarga,” pungkasnya.
Parenting sesi pertama dalam rangka Rapat Pleno Komite MTs Negeri 1 Banjarnegara ini pun diharapkan menjadi tonggak awal sinergi yang semakin kuat antara madrasah dan orang tua dalam mendidik siswa-siswi kelas VII agar tumbuh menjadi generasi unggul, berakhlak, dan siap menghadapi tantangan zaman. (Lin/La)







