Banjarnegara (Humas) – Suasana berbeda tampak di lingkungan MTs Negeri 1 Banjarnegara pada Senin (20/10). Kegiatan rutin Baca Senyap yang biasanya dilaksanakan setiap awal pekan kali ini berlangsung dalam nuansa peringatan hari Santri Nasional 2025. Seluruh warga madrasah, baik guru, tenaga kependidikan maupun peserta didik, tampak kompak mengenakan busana khas santri — para siswa putra bersarung dan berpeci, sedangkan siswi putri mengenakan gamis panjang. Nuansa religius dan literatif berpadu indah, mencerminkan semangat santri yang cinta ilmu dan gemar membaca.
Kegiatan Baca Senyap merupakan program literasi unggulan MTs Negeri 1 Banjarnegara yang telah berjalan secara konsisten setiap hari Senin pada jam pelajaran pertama selama 40 menit. Seluruh warga madrasah berpartisipasi dengan membaca buku non pelajaran, baik fiksi maupun nonfiksi, dalam suasana tenang dan khusyuk. Kali ini, kegiatan tersebut terasa semakin bermakna karena dikolaborasikan dengan momentum Hari Santri yang identik dengan semangat menuntut ilmu dan memperdalam wawasan keagamaan.
Wakil Kepala Madrasah urusan Kurikulum, Hj. Yuniyati dalam keterangannya menyampaikan bahwa kegiatan Baca Senyap merupakan bentuk nyata penerapan gerakan literasi madrasah yang terus dikembangkan MTs Negeri 1 Banjarnegara.
“Madrasah kami berkomitmen kuat menumbuhkan budaya membaca di kalangan guru dan peserta didik. Melalui kegiatan Baca Senyap ini, kami ingin membiasakan seluruh warga madrasah untuk meluangkan waktu membaca tanpa gangguan, sehingga tercipta suasana belajar yang tenang dan fokus. Bertepatan dengan Hari Santri, kami ingin menegaskan bahwa santri tidak hanya dekat dengan kitab, tetapi juga mencintai literasi secara luas,” jelas Hj. Yuniyati.
Sementara itu, Pono Suhayitno, guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) MTs Negeri 1 Banjarnegara, menilai kegiatan Baca Senyap sangat relevan dengan nilai-nilai kesantrian. Ia menjelaskan bahwa santri sejatinya memiliki tradisi membaca dan menelaah teks yang sangat kuat sejak masa lalu.
“Santri dikenal sebagai pembaca dan penelaah yang tekun. Mereka terbiasa memaknai kitab, berdiskusi, dan menuliskan hasil pembelajarannya. Jadi kegiatan Baca Senyap ini sebenarnya memperkuat tradisi intelektual santri di era modern. Literasi tidak hanya berarti membaca buku pelajaran, tetapi juga membuka jendela dunia untuk memahami berbagai aspek kehidupan,” tutur Pono.
Di sela-sela kegiatan, tampak para siswa menikmati momen membaca dengan penuh antusias. Suasana kelas begitu tenang. Setiap siswa larut dalam buku pilihan mereka, mulai dari novel islami, biografi tokoh ulama, hingga buku motivasi remaja. Salah satu wali kelas 7A, Musfiatul Muniroh, mengungkapkan rasa bangganya melihat siswanya begitu bersemangat mengikuti kegiatan tersebut.
“Anak-anak terlihat senang sekali karena kegiatan literasi ini dikemas berbeda dari biasanya. Mereka datang dengan pakaian santri, suasana khidmat terasa sekali. Saya berharap melalui kegiatan seperti ini, semangat literasi dapat tertanam lebih dalam di hati siswa, tidak hanya sebagai kegiatan rutin, tetapi menjadi gaya hidup yang melekat,” ungkap Musfiatul.
Salah satu siswa kelas 7A, Indira juga membagikan kesan positifnya setelah mengikuti kegiatan tersebut.
“Saya senang sekali bisa ikut Baca Senyap sambil memakai busana santri. Rasanya beda dan lebih bersemangat. Buku yang saya baca tadi berjudul Ketika Cinta Bertasbih dan banyak pelajaran yang saya dapat tentang perjuangan dan kesabaran. Semoga kegiatan seperti ini sering dilakukan, karena membaca bikin tenang dan menambah ilmu,” ujarnya dengan antusias.
Kepala MTs Negeri 1 Banjarnegara, H. Yatiman, dalam kesempatan terpisah menyampaikan apresiasinya terhadap seluruh guru dan siswa yang telah berpartisipasi aktif dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, literasi merupakan salah satu pilar penting dalam penguatan karakter dan kualitas pembelajaran di madrasah.
“Kami ingin MTsN 1 Banjarnegara menjadi madrasah yang tidak hanya unggul dalam akademik dan religius, tetapi juga literat. Kegiatan seperti Baca Senyap ini adalah bagian dari ikhtiar untuk membangun generasi santri cerdas, berakhlak, dan berwawasan luas,” tegasnya.
Dengan perpaduan antara semangat Hari Santri dan kegiatan literasi, MTs Negeri 1 Banjarnegara berhasil menciptakan suasana belajar yang inspiratif dan sarat makna. Tradisi membaca yang dipadukan dengan nilai-nilai kesantrian menjadi simbol bahwa santri modern adalah mereka yang tekun belajar, terbuka terhadap ilmu, dan siap berkontribusi bagi kemajuan bangsa. (Fy/La)







