Banjarnegara – Suasana haru menyelimuti keluarga besar MI Al Fatah Parakancanggah (MIFABARA) ketika kabar duka datang dari salah satu guru, Diana. Ayahanda beliau berpulang ke rahmatullah di Banyumas. Sebagai bentuk empati dan kebersamaan, para guru MIFABARA berkunjung ke rumah duka untuk mendoakan almarhum serta memberikan dukungan moril kepada keluarga yang ditinggalkan.(6/11)
Rombongan guru berangkat bersama dengan penuh rasa kekeluargaan. Setibanya di rumah kediaman almarhum, mereka melantunkan doa bersama agar almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. “Kami datang bukan sekadar menyampaikan belasungkawa, tetapi juga ingin menunjukkan bahwa kami satu keluarga besar. Dalam suka maupun duka, kami saling menguatkan,” ungkap Umi Setyaningsih yang turut hadir dalam rombongan tersebut.
Kepala Madrasah, Durotun Nafisah, turut menyampaikan rasa duka mendalam dan apresiasi atas semangat kebersamaan yang terjalin di antara para guru. “Inilah yang kami tanamkan di MIFABARA, bukan hanya profesional dalam mengajar, tetapi juga memiliki kompetensi sosial dan empati yang tinggi. Semoga kebersamaan ini terus terjaga dan menjadi teladan bagi para siswa,” ujarnya.
Kegiatan tak berhenti pada kunjungan tersebut. Dalam keseharian, para guru MIFABARA juga senantiasa mendoakan rekan-rekan atau keluarga besar madrasah yang tengah sakit, berduka, maupun menghadapi ujian kehidupan. Hal ini menjadi bagian dari budaya positif yang tumbuh kuat di lingkungan madrasah, yakni saling peduli, mendoakan, dan menguatkan satu sama lain.
“Rasa kebersamaan seperti inilah yang membuat kami merasa MIFABARA bukan hanya tempat bekerja, tapi juga rumah kedua,” tutur Diana dengan mata berkaca-kaca.
Melalui momen duka ini, MIFABARA sekali lagi menunjukkan bahwa nilai-nilai solidaritas dan kepedulian sosial tidak hanya diajarkan kepada siswa, tetapi juga dijalankan nyata oleh para guru sebagai teladan yang hidup.(nas)







