Banjarnegara (Humas) – Pada selasa pagi (18/11) Anton Widiyanto selaku Pengawas Madrasah Pandanarum bersama Amat Maskuri selaku Kepala KUA Karangkobar melaksanakan tinjauan lapangan ke lokasi bencana longsor di Dusun Situkung, Desa Pandanarum.Tinjauan ini dilakukan sebagai langkah awal untuk memetakan kerusakan sarana keagamaan dan pendidikan yang terdampak, sekaligus menyusun rekomendasi pemulihan bagi masyarakat.
Setibanya di lokasi, keduanya disambut oleh relawan yang tengah berjibaku membersihkan sisa material longsor. Kondisi beberapa bangunan keagamaan tampak memprihatinkan. Material tanah, serta runtuhan bangunan menjadikan beberapa fasilitas tidak lagi dapat difungsikan. Pada kesempatan ini, tim melakukan pendataan secara langsung terhadap sarana ibadah dan pendidikan yang rusak.
Hasil asesmen lapangan mencatat sejumlah kerusakan cukup berat, yaitu:
- 1 mushola tertimbun tanah dan tidak dapat digunakan,
- 3 masjid mengalami kerusakan struktural,
- 3 mushola rusak berat, serta
- 1 Madrasah Diniyah mengalami kerusakan parah pada ruang belajar dan fasilitas pendukungnya.
Data ini akan menjadi dasar penting bagi pemerintah dan instansi terkait dalam menentukan prioritas penanganan serta pengajuan bantuan rehabilitasi.

Dalam tinjauannya, Anton Widiyanto menegaskan bahwa kehadiran mereka bukan untuk sekadar dokumentasi atau pencitraan, melainkan tanggung jawab moral dan kelembagaan untuk memastikan keberlangsungan layanan pendidikan keagamaan.
“Kami datang ke sini bukan untuk tampil atau mencari sorotan. Ini adalah amanah kami. Masjid, mushola, dan madrasah diniyah adalah pusat pembinaan umat. Ketika fasilitas itu rusak, maka pembinaan spiritual masyarakat juga ikut terganggu. Karena itu pendataan hari ini sangat penting sebagai dasar penyusunan laporan resmi dan rekomendasi bantuan,” ujarnya.
Anton juga menambahkan bahwa pemulihan sarana keagamaan harus mempertimbangkan aspek keamanan bangunan, kenyamanan santri, serta keberlangsungan kegiatan ibadah dan pengajaran keagamaan.
Amat Maskuri selaku Kepala KUA Karangkobar menegaskan siap memberikan dukungan pendampingan bagi masyarakat, baik dalam bentuk pembinaan mental dan spiritual, maupun koordinasi terkait kebutuhan darurat seperti perlengkapan ibadah, pengajian sementara, serta pendampingan keluarga terdampak.
“Kerusakan fasilitas ini bukan hanya fisik, tetapi juga mempengaruhi kehidupan keagamaan masyarakat. Kami ingin memastikan kegiatan ibadah dan pendidikan agama tetap berjalan, meskipun harus dilakukan di tempat sementara,” jelasnya.
Kunjungan ini ditutup dengan pertemuan singkat bersama perangkat desa untuk menyelaraskan data kerusakan dan menyusun langkah tindak lanjut. Diharapkan asesmen ini menjadi langkah awal pemulihan sarana keagamaan di Situkung, sehingga masyarakat dapat segera kembali menjalankan aktivitas keagamaan dengan aman dan tertata.
(ev/ azd)







